We Call It “The Studio”

bipbip,, sebuah sms masuk…

bungabukannamasebenarnya: sal, lagi ngapain??

shallypristine: lagi studio

bipbip,, sebuah telepon masuk…

sebutsajanamanyamelati: sal, lagi di mana??

shallypristine: lagi di studio

bipbip,, sebuah IM masuk…

sifulanah: kenapa lo gak mau ikut nonton, sal?

shallypristine: lagi gak mood nih, abis nilai studio gw yang kemaren baru keluar jelek…

…dan seterusnya dan seterusnya…

Hanya satu kata ‘studio’ tapi kata ini bisa berarti banyaaak hal bagi kami, mahasiswa arsitektur. Studio bisa berarti tempat, aktivitas, hingga mata kuliah ber-SKS obesitas.

Studio sebagai kata keterangan.

Studio sebagai kata keterangan berarti studio sebagai tempat kami mengerjakan semua proses kreatif mulai dari brainstorming ide sampai mempresentasikan ide di atas kertas. Di arsitektur ITB, ada 5 buah studio untuk mahasiswa pascasarjana, tugas akhir, TPB, tingkat 2, tingkat 3, dan tingkat 4. Berhubung di jurusan arsitektur hanya ada satu macam studio yaitu studio perancangan arsitektur, jadinya studio yang ada dipisah-pisah berdasarkan tingkatan kuliah.

Studio sebagai kata kerja.

Studio sebagai kata kerja yang belakangan dikenal sebagai ‘nyetudio’ adalah istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan semua kegiatan yang berkaitan dengan pengerjaan tugas mata kuliah studio. Survei, mengumpulkan data, membaca buku-buku referensi di perpus, menganalisis data, programming, membuat maket, membuat skema desain, asistensi, membuat kop kertas tugas, menggambar, mengeplot, melayout, deelel, deelel. Extremely exhausting!

Studio sebagai kata benda.

SKS-nya studio ini obesitas bener. Tiap semester (sejak semester 3 sampai semester 7) ada serial mata kuliah Studio Perancangan Arsitektur yang jumlah sksnya sama, 8 sks. malahan ada joke gini, studio itu 8 sks tapi effortnya 24 sks. Alhasil, seluruh jiwa dan raga anak arsi dicurahkan untuk menggapai A di mata kuliah yang nilainya susahsusahsusah ini. maklum, sekalinya dapet C, sirnalah ipe di atas 3..

Ya, itulah sedikit cerita tentang kata yang menjadi menu wajib sehari-hari saya selama tiga tahun terakhir. Sarat cerita, kenangan, dan pelajaran yang saya dapat dari kata studio yang bunyinya sangat ‘nyeni’ ini.

Iklan

6 pemikiran pada “We Call It “The Studio”

  1. hmm.. >_<!
    terima kasih sudah mewakili suara hati anak2 AR..
    yang masih TERJEBAK DALAM RUTINITASnya..
    yang masih SETENGAH MAMPUS berusaha untuk cepat menyelesaikan S1-nya..
    yang masih kebanyakan NGGAK MANTEP untuk melanjutkan profesi arsitek setelah lulus nanti..
    yang masih..
    yang..
    .

  2. hehehe..
    menarik sal,
    studio..

    kalo di IF apa y?

    Tubes kali y? yang rasanya bikin pengen mampus..
    wah, selamat ber studio-ria

  3. YOOOOOOOW….

    he he he….
    arsi banget…
    tiap ketemu kalian-kalian, pasti kedenger kata ‘studio’ at least sekali.. (^_^)

  4. kadang ada yang bilang masuk studio g kalah seramnya dengan masuk penjara.
    tapi di situ tempat kita di tempa..
    seru juga..

    tapi saat keluar ‘studio’ masih banyak hal yang harus kita hadapi, kadang lebih seram.

    tapi tenang tiap tantangan adalah suatu hal yang harus dilewati agar lebih baik…amin

    sukses selalu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s