Di Ujung Rantai

Aroma payau bercampur bau khas pasar menguar dari bandar kecil sepanjang jalanan yang tak lempang betul. Kebanyakan toko di kanan-kiri saya sudah tutup, satu-dua pedagang hanya menyisakan sebelah daun jendela terbuka yang melayani pembeli terakhir. Gelap sudah turun di Larat sejak sejam tadi.

“Ini BRI-nya, Mbak. Ada ATM juga,” kata Maridha yang berjalan menyebelahi saya, menunjuk salah satu los di sebelah kiri.

Saya cukup kaget melihat benda secanggih itu di tempat sepelosok ini. Saya membandingkan dengan unit BRI di Kadindi, ibukota Kecamatan Pekat di kaki Gunung Tambora yang buka reguler saja sudah alhamdulillah. Tak usah sampai bicara ada ATM.

Sebelum ini, saya tak pernah tahu persis perihal tantangan geografisnya ketika mendengar kata ‘Larat’. Untuk bisa memahaminya, mari membayangkan perjalanan saya saat pergi ke ibukota Kecamatan Tanimbar Utara, Kabupaten Maluku Tenggara Barat (MTB) ini.

Dari ibukota MTB, Saumlaki, saya butuh butuh 5 jam berkendara lewat jalan darat untuk sampai ke Siwahan. Dari perhentian itu, saya lanjut menyeberang dengan ketinting selama 15 menit untuk bisa sampai ke Larat. Waktu terbang dari Jakarta ke Saumlaki, saya menempuh total waktu 9 jam dengan transit di Makassar dan Ambon. Untuk sampai ke desa tujuan, saya harus menunggu speedboat besok pagi.

Saat berada di dalam oto sewaan ke Siwahan, saya menekur sambil mencoba paham jalan pikiran leluhur kita. Entah ilham apa yang menuntun para nenek moyang mengembara sedemikian jauhnya dari Hunan di selatan Tiongkok sana sampai memutuskan bermukim di sini, Nusantara.

Nusantara adalah kepulauan terluas di dunia yang bentangnya setara sisi lebar benua, macam dari Spanyol ke Norwegia. Bagai jackpot, kepulauan ini juga jadi daerah pertemuan dua lempeng tektonik terbesar plus jalur cincin gunung api dengan letusan terdahysat plus salah satu palung laut dalam plus segala paling-paling yang lainnya.

Maka konsekuensinya, pekerjaan mendistribusikan apapun—mulai dari barang apalagi orang atau kebijakan—jadi hajat besar bagi bangsa ini.

Waktu saya tinggal di Tambora, walau letaknya di luar Jawa, ternyata tidak seberapa rumit karena Kabupaten Bima berada di tengah rantai distribusi barang dari Indonesia bagian barat ke timur Nusa Tenggara. Bila kirim barang lewat ekspedisi dari Jakarta, akan sampai dalam waktu 4 hari di Bima. Namun saya baru sadar ternyata urusannya jadi agak berbeda ketika kita berada persis di anak rantai terakhir distribusi itu, seperti waktu ada di Tanimbar.

Selain harga yang melenting karena terbebani ongkos kirim, pilihan yang tersedia juga terbatas. Penjaga toko hanya menggeleng lemah waktu saya ingin membeli Indomie goreng, katanya di satu kabupaten ini hanya dapat pasokan Mi Sedap. Dia mengangsurkan kembalian berupa beberapa lembar ribuan—kumpulan uang terlecek yang pernah saya terima seumur hidup.

Suara azan Isya memanggil dari arah depan kami. Lewat sedikit dari tikungan jalan pasar ini, ada satu-satunya masjid di Tanimbar Utara. Saudagar Bugis memang digdaya menaklukkan samudera. Mereka masuk dari arah Tual di utara lalu membentuk koloni muslim di Larat. Sampai saat ini, jalur perdagangannya masih lestari. Anda ada di Larat dan mau beli ayam broiler beku yang dijamin halal? Datanglah ke toko milik Darman asal Makassar di dekat kantor pos.

Konon dulu ada lebih banyak muslim di sini. Namun banyak dari mereka yang tak kembali setelah mengungsi saat pecah konflik agama di Maluku, akhir 1990-an.

Kita juga bisa menemukan segelintir etnis Tionghoa di pasar ini. Saya sampai heran melihat penjaga toko—yang tingkat ketampanannya setara bintang drama Korea—sedang bicara pakai beta dan seng dalam logat khas Indonesia timur. Dalam hati saya membatin, ah Indonesia, sampai di pojok negeri begini pun kau masih serbaneka.

Saya melanjutkan renungan di Siwahan tadi. Nusantara memang konsep gila. Ribuan pulau dan ratusan ribu kilometer persegi lautnya. Maka tepatlah saat ada yang menyebutnya nusantara, nusa (pulau) di antara lautan. Karena itulah Djuanda menekankan konsep Wawasan Nusantara, tentang melihat laut sebagai pemersatu, bukan pemisah pulau-pulau yang terserak.

Seusai sembahyang Isya dan batal mampir ke ATM—karena ternyata uangnya habis—kami menuju ke pastori besar di atas bukit. Pastori adalah istilah untuk rumah pendeta, biasanya terletak di dalam kompleks gereja. Para Pengajar Muda lelaki sudah mengatur bahwa kami akan bermalam di sana. Ini pengalaman pertama saya menginap di pastori.

Bapak pendeta menyilakan kami masuk. Rupanya sedang ada siaran langsung pengumuman formasi Kabinet Kerja Jokowi di Istana Negara. Kami bergantian mandi sembari menonton televisi bersama empunya rumah, menyaksikan hiruk-pikuk yang berjarak ribuan kilometer tetapi seketika dampaknya akan terasa. Di tengah seruput teh manis dan kerenyahan biskuit yang terhidang, kami saling menimpali komentar bapak pendeta tentang pilihan menteri Pak Presiden.

Sebelum pamit istirahat, bapak pendeta berkali-kali minta maaf karena kelima tamu perempuannya harus berjejalan di satu kamar. Padahal, kamar berukuran 2,5 x 5 meter dengan dua kasur pegas ukuran king itu jelas lebih dari layak untuk kami.

Kami menutup pintu. Perjalanan hari itu usai juga. Saya melepas kerudung dan bersiap tidur. Senyum syukur mengembang tak berhenti karena saya merasa sangat diterima.

Malam itu, di ujung rantai Nusantara, seketika hati saya terasa hangat.

Iklan