Gara-gara Gibraltar

Saya berjalan meninggalkan kapal feri Balearia ke arah terminal bis pelabuhan Tangier Med, sambil melepas jam tangan dan menyesuaikan waktunya.

Maroko masuk ke zona waktu GMT+0, mundur dua jam dari Spanyol. Setelah disesuaikan, jam tangan saya menunjukkan waktu hampir pukul 7 sore, artinya saya masih punya 2 jam 30 menit untuk mengejar kereta terakhir ke Marrakesh dari Tangier. Jika informasi yang ada di internet valid adanya—bahwa ada bis gratis dari pelabuhan Tangier Med sampai ke Tangier, kota besar terdekat yang jaraknya 52 kilometer—maka seharusnya semua akan lancar-lancar saja.

Selain saya, kelihatannya hanya ada satu penumpang lain—gadis modis bertopi—yang berjalan ke arah terminal bis. Ratusan lainnya menggunakan kendaraan pribadi. Kelihatannya gadis itu cukup ramah, maka saya memberanikan diri menyapanya.

“Hai, bisa bicara bahasa Inggris?” saya mencoba mengimbangi langkahnya.
Dia mengangguk dan melepaskan fedoranya sambil merapikan rambut coklatnya yang berombak, ”Mau ke Tangier juga?”
“Iya, katanya ada fasilitas bis ke Tangier?” saya bertanya balik.
“Mungkin yang itu,” katanya sambil menunjuk ke deretan bis dekat tempat parkir.

Begitu saya dan dia melipir ke jalur pejalan kaki, seorang petugas berseragam coklat mencegat dan meminta kami menunjukkan paspor. Urusan si gadis rambut coklat lancar, namun tidak untuk saya. Setelah membolak-balik halaman paspor saya, laki-laki tinggi besar dengan kumis serupa sisir itu membentak dalam bahasa Inggris beraksen jauh, “Mana cap dari petugas imigrasi Maroko di kapal feri? Anda tidak dengar pengumuman petugas di dalam kapal tadi?”

Saya mengkeret. Waktu tersisa 2 jam 27 menit lagi.

***

Keringat meluncur deras dari puncak pelipis saya. Memang jangan anggap enteng matahari puncak musim panas ketika berada di atas kepala. Sepertinya angka temperatur 43 derajat Celcius di papan informasi cuaca tadi benar adanya. Hanya saja, hasrat ingin meneguk air di botol minum harus saya singkirkan jauh-jauh karena waktu berbuka puasa masih sembilan jam lagi.

Setelah melewati pemeriksaan sederhana—cuma pemeriksaan izin tinggal dan tanpa cap masuk di paspor—saya menyeret koper kabin keluar dari pos perbatasan Inggris Raya dan Spanyol. Saya memandang suguhan daratan datar dengan sejumput bukit di kejauhan yang kering terpanggang hari. Bukit inilah yang jadi alasan saya memilih rute estafet dari Spanyol ke Maroko: Gibraltar.

Mengunjungi Gibraltar adalah kesempatan yang saya tunggu sejak kecil. Sewaktu belajar Sejarah Islam di bangku SD, kisah heroik Thariq bin Ziyad saat memulai penaklukan Semenanjung Iberia pada tahun 710-711 seketika melekat di ingatan saya.

Dari Ceuta di Afrika Utara, Thariq membawa 12 ribu pasukan Berber menyeberang ke tanah tempat saya berdiri, yang sekarang masuk ke dalam teritori Inggris Raya. Menurut beberapa referensi, begitu sampai di daratan paling selatan Semenanjung Iberia ini, Thariq naik ke puncak tertinggi dan berorasi dengan berapi-api. Dia memerintahkan pasukannya untuk membakar kapal yang mereka gunakan. Alasannya agar segenap pasukan bertempur habis-habisan karena mereka tak lagi bisa pulang. No point of return.

Seorang sejarawan abad ke-16, Ahmad Muhammad al-Maqqari, menuliskan kutipan seruan Thariq kepada prajuritnya di bukit itu:

“Oh my warriors, whither would you flee? Behind you is the sea, before you, the enemy. You have left now only the hope of your courage and your constancy.”

Pasukan Thariq mengalahkan bala prajurit Raja Roderick—yang konon diperkuat 100 ribu personel—dalam baku serang di Guadalete, sekitar 120 kilometer di barat Gibraltar. Kemenangan ini menjadi awal penaklukan Semenanjung Iberia di bawah kekuasaan Islam—yang kemudian bersatu di bawah pemerintahan Kesultanan Al-Andalus—hanya dalam waktu 70 tahun. Kesultanan yang beribukota di Kordoba ini menjadi puncak kemajuan peradaban dunia pada masanya, ketika sains bersinergi dengan spiritualitas dalam pencarian pengetahuan milik Beliau Yang Maha Berilmu.

file_001

Mihrab Masjid Agung Kordoba

Setelah menjejak Gibraltar, rasanya saya jadi sedikit terbayang penyulut semangat Thariq dan pasukan untuk menaklukkan Semenanjung Iberia, sekira 13 abad lalu. Daratan yang banyak mereka bicarakan—karena dikuasai orang-orang Visigotik yang belum tercerahkan itu—ternyata kelihatan dengan mata telanjang.

Walau menyeberangi selatnya berarti berdiri di atas benua yang berbeda, bagi Thariq dan pasukannya yang bertolak dari Afrika Utara, Eropa tak lebih dari daratan pada umumnya yang bisa dilihat siapa saja. Yang perlu kita ingat, saat itu kaki langit yang sepenuhnya berupa lautan masih bersinonim dengan tepian dunia dan teknologi kartografi belum semaju sekarang. Alhasil visibilitas jadi penting dalam penjelajahan karena ia menawarkan kepastian dan daratan yang kelihatan di seberang perairan sungguh menjanjikan untuk dijelang.

Maka setelah bermufakat dengan bangsawan pemilik kapal di Ceuta—yang menyilakan penggunaan armadanya dengan imbalan pembalasan dendam kepada Raja Roderick—Thariq memimpin misi yang kelak mengubah wajah peradaban dunia.

Kepempimpinan Thariq yang monumental membuat namanya disematkan kepada bukit bersejarah tadi. Si bukit kemudian disebut Jabl Ath-Thariq atau Bukit Thariq. Lidah penduduk setempat menyederhanakannya menjadi tiga suku kata, Gib-ral-tar, yang abadi hingga sekarang. Selat selebar 40-an kilometer yang diarungi Thariq untuk mencapai benua Eropa dari Afrika mendapat nama yang sama, begitupun teritori di sekitar bukitnya.

***

Karena mau melipir ke Gibraltar ini saya harus pilih jalur laut untuk menyeberang ke Afrika, alih-alih lewat udara yang lebih populer karena mudah dan biayanya terjangkau. Tujuan kurang populer ini juga menyebabkan tidak ada kenalan saya yang punya minat serupa dan ingin menjadi kawan seperjalanan. Akhirnya saya memberanikan diri untuk bertualang sendiri alias solo travelling untuk perjalanan ini.

Saya gesit mencari informasi ke sana-sini. Di kalangan pertemanan saya, hanya Marcelo—si teman sekelas asal Kolombia—yang pernah menempuh Spanyol-Maroko dengan kapal feri. Mencari informasi lewat internet pun jumlahnya terbatas dan sebagian sudah kedaluwarsa.

Semua sumber menyebutkan, intinya pergilah ke Spanyol bagian selatan lalu bertolaklah dari Algeciras menuju Tangier. Ternyata, ini rute lama—dulu Marcelo lewat sini—yang baru saja berubah. Jika berangkat dari Algeciras, semua kapal akan merapat di Tangier Med. Jika mau berlabuh di Tangier, saya harus naik bis lagi dari Algeciras ke Tarifa, kota lain yang letaknya lebih ke barat.

Karena kadung punya tiket kereta Renfe sampai ke Algeciras dari Cordoba, saya pilih jasa feri Balearia yang membawa ke Tangier Med. Saya pikir, toh nanti juga ada bis gratis yang akan membawa saya ke Tangier. Ditambah lagi, jadwal keberangkatan Balearia di sore hari membuat saya punya waktu luang selama 3 jam di Algeciras. Jeda ini yang akan saya manfaatkan untuk menapaktilasi jejak Thariq bin Ziyad.

file_000

Begitu kelar menuntaskan rasa penasaran tentang Gibraltar, saya bergegas kembali ke Algeciras dan menuju pelabuhan. Saya cukup kaget karena proses naik ke kapal terasa santai saja, seperti hanya mau menyeberang dari Merak ke Bakaheuni. Pun di pos imigrasi Spanyol tidak ada interogasi dari petugas yang berusaha bermuka galak, mungkin karena sudah letih menghadapi 78.422 penumpang lain* sebelum saya.

Begitu naik ke dalam kapal, interiornya pun semacam kapal roro milik ASDP. Ada kabin utama yang berpendingin ruangan dengan kafetaria yang menjual mi instan seduh; penuh oleh penumpang perempuan dan anak-anak. Lalu ada geladak terbuka di bagian belakang tempat para ahli hisap berkumpul, kebanyakan lelaki. Menimbang profil fisik mereka, sepertinya mayoritas penumpang kapal ini adalah orang Maroko yang hendak merayakan Idul Fitri di kampung halaman. Sayang, saya tak bisa mengobrol dengan salah satu mereka karena kendala komunikasi. Maklum, bahasa resmi di Maroko adalah Prancis dan Arab, yang keduanya tak saya kuasai.

Bahasa pengantar di dalam kapal feri pun praktis menggunakan kedua bahasa itu plus bahasa Spanyol. Sesekali mereka memberikan pengumuman dalam bahasa Inggris, tetapi tingkat kefasihannya semenyedihkan instruksi keselamatan di penerbangan maskapai lokal di Indonesia. Saya jadi mengandalkan pengamatan sekeliling untuk mengetahui perkiraan waktu feri ini sampai di tujuan.

Ternyata tak sampai 3 jam setelah bertolak dari Algeciras, kapal sudah siap sandar di Tangier-Med. Saya mengecek jam untuk memastikan waktu yang tersisa untuk perjalanan selanjutnya. Perbedaan zona waktu telah menyebabkan jam tangan dan ponsel saya tidak akur.

Belum sempat saya menyesuaikan waktu di jam tangan, seorang kru kabin—dengan bahasa Tarzan—mengarahkan saya untuk berjalan ke jalur keluar. Di ujung jalur itu, saya melihat sekumpulan petugas berseragam coklat. Entah mengapa, terbit rasa tak enak begitu melihat para petugas. Buru-buru saya tepis firasat buruk itu. Bismillah.

***

Petugas kumis sisir bicara kepada seorang kawannya lewat radio panggil. Yang bersangkutan muncul sejurus kemudian dari dalam kapal feri, kelihatannya lebih ramah dari si kumis sisir. Petugas ramah ini kemudian bertanya, “Indonesia, ya? Jadi tidak perlu visa?”

“Iya, Pak. Oops, I’m sorry. I mean, that’s correct, Sir.” Saya gugup karena khawatir betul takut tertahan perkara keimigrasian dan ditinggal bis ke Tangier. Si gadis bertopi fedora sudah berjalan menuju tempat parkir bis.

Sepertinya kombinasi muka saya yang memelas dan berkah bulan Ramadhan mampu meluluhkan kegarangan petugas imigrasi. Mereka membawa masuk paspor saya dan muncul 15 menit kemudian dengan cap “ENTREE-TANGER MED” dan sederet aksara Arab yang saya tidak paham artinya.

“Lain kali jangan lupa minta cap dari petugas imigrasi Maroko di bagian geladak belakang sebelum kapal merapat,” kata petugas kumis sisir.
“Siap, maaf ini kali pertama saya naik feri ke Maroko. Terima kasih banyak untuk bantuannya,” saya menjawab dengan apologetik.
Waha’**, sekarang segera kejar bis itu. Mereka menunggu,” balasnya.

Begitu saya naik, bisnya langsung laju. Si gadis berambut coklat ternyata bukan cuma bisa bahasa Inggris, tapi juga Prancis, Spanyol, dan Arab. Dia lahir dan besar di Prancis selatan, lalu sekarang kerja di Malaga. Penguasaan bahasa Arab dia dapatkan dari keluarga besarnya yang berasal dari Maroko. Dia dalam perjalanan mengunjungi neneknya di Kasablanka untuk merayakan Idul Fitri di sana. “Panggil saya Shabrina,” katanya.

Mata saya seketika berbinar karena merasa menemukan jalan keluar. Maklum, untuk bernavigasi di Maroko butuh bahasa Arab dan Prancis yang jadi bahasa utama. Saya sempat mencoba pesan tiket kereta Tangier-Marrakesh lewat situs PT Kereta Api Maroko tetapi menyerah karena semua tampilan antarmuka hanya menggunakan kedua bahasa itu. Mau memanfaatkan Google Translate-pun banyak kendala teknis. Saya pasrah dan berniat membeli tiket kereta dengan cara go-show saja.

Perjalanan belum genap 15 menit ketika pengemudi bis menepikan kendaraan ke salah satu bangunan mirip terminal. Saya dan Shabrina bertatapan dengan kebingungan yang sama. Jelas kami belum sampai Tangier, tapi entah mengapa sudah disuruh turun. Shabrina mendekati si supir dan bicara dalam bahasa Prancis. Ternyata layanan bis gratis hanya sampai terminal Tangier Med.

Sambil menggotong tas, kami berjalan mendekati petugas keamanan yang sedang berjaga di pintu terminal. Petugas berseragam itu bilang, untuk mencapai Tangier kami harus naik kereta pelabuhan, bis, atau taksi yang semuanya berbayar. Kabar buruknya, kereta atau bis baru beroperasi jelang tengah malam. Opsi paling mungkin hanyalah naik taksi yang ongkosnya membuat jeri.

“Berapa?” Shabrina bertanya kepada petugas keamanan terminal.
“Satu kali jalan 250 dirham,” jawab si petugas dalam bahasa Arab.
“Waha’…” Shabrina lantas menoleh ke arah saya dan menerjemahkan jawaban bapak petugas. “Sekitar 25 Euro,” ujarnya melihat saya yang kebingungan mengonversi dirham ke mata uang yang nilainya saya pahami.
“Naik taksi saja. Apalagi kalian berdua perempuan, tidak aman naik kendaraan umum malam-malam,” saran pak petugas.
“Waha’…” Shabrina mengangguk-angguk.

Setelah melakukan tawaf keliling terminal untuk mengecek silang informasi soal transportasi ke Tangier, saya dan Shabrina sepakat kalau taksi adalah solusi yang paling masuk akal untuk kami. Jika berangkat dengan kereta pelabuhan atau bis, kami harus bermalam di Tangier yang ujung-ujungnya akan berbiaya setara mahalnya dengan naik taksi. Sedangkan bila naik taksi, perjalanan akan lebih ringkas karena hanya butuh waktu kurang dari satu jam.

Setelah meneguhkan hati, saya dan Shabrina mantap berangkat ke Tangier demi mengejar waktu keberangkatan kereta ke Marrakesh yang tinggal 1 jam 45 menit lagi.

Akhirnya waktu Maghrib tiba di Negeri Maghribi. Di terminal pelabuhan yang masih mengilat tanda baru itu, saya tak sadar sudah saatnya berbuka puasa karena tidak mendengar kumandang azan. Untunglah petugas konter informasi sigap bergerak membagikan paket iftar untuk para musafir yang kadung berbuka di tempat ini. Setelah mengambil dua paket kurma dan air putih, kami menaikkan barang ke mobil dan meminta sopir untuk bergegas ke stasiun kereta Tangier.

Taksi membawa kami melaju ke arah barat, meninggalkan Tangier Med yang kemerahan dibasuh petang di belakang.

***

Walau baru kenal satu jam yang lalu, ternyata saya dan Shabrina jadi cepat akrab karena kami punya banyak kesamaan. Kami seusia dan berada di persimpangan hidup yang serupa. Bedanya, saya adalah mahasiswa yang dikejar tenggat akhir draf disertasi tapi nekat kabur liburan ke benua lain, sedangkan dia adalah kurator di galeri seni yang anti-kemapanan dan sedang menunggu perubahan karir yang lebih menjanjikan. Obrolan kami sangat seru, sampai si pengemudi taksi menurunkan volume musik agar suara kami tak perlu bersaing.

Shabrina bercerita, Idul Fitri yang tinggal lima hari lagi membuat harga tiket pesawat Spanyol-Maroko meroket.  Dia menyengaja berlebaran di rumah nenek—alih-alih bersama orang tuanya di Prancis—agar tak perlu meladeni pertanyaan klasik seputar jodoh dan pekerjaan. Ternyata lumayan banyak juga penghuni Semenanjung Iberia yang punya keluarga di Maroko dan ingin berlebaran di kampung leluhurnya. Karena faktor harga pula Shabrina memilih jalur laut dan darat yang murah meriah, walau baginya ini pun pengalaman pertama kali.

Dia bertanya balik tentang alasan saya berperjalanan sendiri naik kapal feri ke Maroko. Saya pun bercerita singkat soal kisah Thariq bin Ziyad dan pelajaran Sejarah Islam waktu SD.

“Jadi solo travelling-mu ini cuma karena mau ke Gibraltar?” Shabrina mengerenyit heran.
“Iya, selagi tinggal di belahan bumi yang ini,” saya menjawab sambil mengudap kurma.
“Wah, kamu nekat juga!” katanya sambil geleng-geleng kepala.
“Juga karena saya ini sebenarnya penakut, makanya solo travelling ini juga jadi cara saya melatih diri,” ucap saya.
“Betul, itu penting kalau mau jadi perempuan mandiri,” katanya sembari berefleksi.
“Kamu senang juga ‘kan jadi bisa bertemu teman perjalanan yang senasib?” balas saya.
“Iya, senasib galaunya!” katanya sambil tergelak.

Kami sampai di stasiun kereta Tangier 30 menit sebelum kereta terakhir berangkat. Ternyata kereta ke Marrakesh akan lebih dulu singgah di Kasablanka, jadi Shabrina juga akan menumpang sepur yang sama. Dia membantu saya membeli tiket dan mengantar saya sampai ke gerbong. Dia juga membuat saya berjanji akan mampir ke Kasablanka bila waktu memungkinkan.

“Nanti saya akan mengajakmu merayakan Eid seperti orang Maroko!” ujarnya sebelum silam di pintu gerbong.

Saya tak pernah menyangka sebelumnya. Dalam perjalanan solo melintasi dua benua ini saya hampir ditahan petugas imigrasi, terancam bermalam di terminal, berpotensi ketinggalan kereta, dan harus keluar uang ekstra 125 dirham Maroko untuk ongkos taksi termahal dalam hidup. Namun di hidup saya juga bertambah satu teman, beribu pengetahuan, dan berlaksa keberanian baru.

Semua gara-gara Gibraltar.

file_000-1

Now I can take out Gibraltar from my ultimate bucket lists! 🙂

______________

* Angka ini hanya hiperbola. Mihihi
** Ungkapan dalam bahasa Arab Maroko yang kurang lebih artinya ‘oke’ atau ‘saya paham’
Iklan

4 pemikiran pada “Gara-gara Gibraltar

  1. Subhanallah…membacanya seakan ikut masuk ke dalamnya.pengetahuan berbalut romantika asa dan kerinduan akan kenangan masa lalu dan masa depan.
    Semoga Allah akan mencatat ini sebagai salah satu cara utk menghargai ciptaanNya.

    • Alhamdulillah, perjalanan kemarin lancar berkat doa Mama. Semoga yang membaca tulisan ini juga diingatkan tentang keagungan Islam. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s