Tak Perlu ‘Baper’, Sadiq Khan Hanya Muslim Biasa

Akhir April lalu seisi Copperbox Arena serentak bergemuruh ketika Sadiq Khan, waktu itu masih calon walikota London dari Partai Buruh, menyapa saya dan 6.000-an hadirin London Mayoral Assembly lainnya dengan sapaan “Assalamualaikum”. Saya—yang selama delapan bulan tinggal di London belum pernah dapat salam serupa di acara formal manapun—kontan merinding. Meriahnya sambutan hadirin untuk Sadiq sungguh berbeda dengan yang mereka berikan untuk kandidat lain yang terbilang dingin, kalau tidak mau menyebutnya anyep.

525550818

Di detik itu saya yakin akan dua hal. Pertama, Sadiq akan terpilih jadi walikota seperti hasil survei-survei yang diadakan menjelang hari pemilihan. Kedua, peta politik di London dan Inggris—yang sekian tahun belakangan agak stagnan karena dominasi Partai Konservatif—akan kembali seru. Sebagai informasi, pejawat walikota London dua periode sebelumnya, Boris Johnson, berasal dari Partai Konservatif. Di tingkat nasional, Perdana Menteri Inggris saat ini, David Cameron, juga besutan partai penguasa House of Parliament ini.

London Mayoral Assembly adalah kegiatan paparan komitmen politik yang diadakan London Citizens sepekan sebelum hari pemilihan. Di kesempatan itu, Sadiq membuka gilirannya berbicara dengan narasi yang dia ulang di mana-mana.

Sadiq selalu memulai kampanye dengan mengangkat cerita diri sebagai anak dari seorang sopir bus kota. Orang tuanya hijrah ke London persis sebelum Sadiq lahir, bekerja keras dari level paling bawah agar kedelapan anak mereka bisa sekolah dengan baik. Sadiq tumbuh besar di sebuah council estate—semacam rumah susun sederhana—di Earlsfield, sebuah daerah di London Barat Daya yang reputasinya jauh dari predikat kawasan keren. Setelah berhasil menamatkan pendidikan hukum, Sadiq memilih berkarir jadi pengacara yang juga menangani kasus hak asasi manusia dan membela kelompok minoritas yang mengalami diskriminasi. Sadiq menegaskan posisi kampanyenya dengan sangat jelas: muslim, keturunan imigran, dan mewakili rakyat kecil.

Dengan posisi kampanye yang demikian, Sadiq jadi sasaran empuk lawan. Selebaran miring tentang “the Muslim”—merujuk kepada Sadiq—menyebar di London selama musim kampanye walikota. Sadiq juga dituding terafiliasi dengan terorisme karena mantan kakak iparnya dirumorkan pernah menjadi simpatisan gerakan ekstremis di Timur Tengah. Saking jengahnya, Mehdi Hassan—jurnalis Al-Jazeera yang juga tokoh muslim berpengaruh di Inggris—berani menjamin bahwa Sadiq adalah muslim moderat yang paling kompeten untuk jabatan publik di Inggris Raya. Plus, bila Sadiq terpilih sebagai walikota, Mehdi yakin hal ini akan mendorong asimilasi komunitas muslim yang selama ini cenderung terpisah dari masyarakat London pada umumnya.

Perjuangan babak belur Sadiq sepanjang kampanye berakhir jaya. Dia mendulang 1,3 juta suara, unggul hampir 10 persen dari kompetitor terkuat, Zac Goldsmith dari Partai Konservatif. Ini kemenangan paling besar sepanjang catatan Pilwalkot London, bahkan menjadi perolehan suara individual terbesar sepanjang sejarah demokrasi di Inggris Raya. Kemenangan Sadiq kemudian dirayakan di mana-mana, termasuk oleh masyarakat Pakistan. Tokoh muslim dunia juga angkat bicara menyambut kemenangan ini, di antaranya Jusuf Kalla. Ini jadi fenomena menarik karena sebagai pemimpin tingkat kota, tipis sekali kaitan antara kemenangan Sadiq dan hajat hidup muslim di luar London.

Hanya saja euforia ini tidak berlangsung lama. Sebagian umat Islam dunia lantas kecewa terhadap beberapa sikap Sadiq yang—mengutip seorang teman saya—nggak muslim banget. Malah ada yang jadi ‘baper’ menganggap kemenangan Sadiq di London tidak ada bedanya dengan kemenangan kandidat yang bukan muslim. Poin yang mereka kritisi di antaranya sikap Sadiq yang pro-pernikahan sesama jenis, tidak setuju penggunaan niqab, dan menolak aksi boikot terhadap produk Israel.

Coba kita tilik keberatan ini satu per satu dari kacamata Sadiq. Soal pilihannya yang mendukung kesetaraan hak untuk menikah, lihat bahwa Sadiq bukan kader Partai Keadilan Sejahtera melainkan Partai Buruh yang berhaluan politik kiri-liberal. Juga ketika Sadiq menyebut penggunaan niqab dan burqa ketika mengakses fasilitas publik hendaknya dibatasi, ingat bahwa Sadiq dibesarkan dalam keluarga keturunan Pakistan yang budayanya tak punya tradisi menutupi muka perempuan. Sehingga ketika menimbang antara untung dan rugi niqab dalam mengakses fasilitas publik, dia mengedepankan faktor keamanan. Soal sikap menolak boikot, Sadiq berargumen bahwa hal itu hanya akan merugikan para karyawan dari barang atau jasa yang diprotes. Dia sendiri tetap berpendirian bahwa kejahatan kemanusiaan di Palestina harus diakhiri.

Harus kita akui sebagian pemilih memberikan suaranya karena Sadiq seorang muslim, namun sebagiannya lagi karena dia mewakili mereka yang berasal dari kelompok minoritas, kelas pekerja, dan liberal. Bagi Sadiq, pilihan sikapnya untuk satu hal tidak lantas menegasi posisinya di aspek lain. Irisan beragam identitas ini yang perlu publik pahami ketika menilik terpilihnya Sadiq, termasuk ketika menaruh harapan terhadap orang nomor satu di kota metropolitan terbesar kelima di dunia ini.

Sudah lepas sebulan Sadiq memimpin London. Sebagai warga temporer kota ini sampai beberapa bulan ke depan, saya pribadi tidak bermimpi terpilihnya Sadiq akan berpengaruh signifikan terhadap kebijakan terkait keyakinan yang kebetulan kami bagi. Seperti publik pada umumnya, saya lebih menantikan Sadiq merealisasikan manifesto London yang inklusif bagi semua warga.

Manifesto ini penting dalam memahami kerangka irisan identitas tadi. Janji kampanye Sadiq mewakili kegelisahan mereka yang berasal dari golongan minoritas dan terpinggirkan—entah itu golongan kulit berwarna, penganut agama selain umat Kristiani, keturunan imigran, mereka yang punya orientasi seksual berbeda, dan sebagainya—tentang hilangnya kesempatan mereka untuk memaksimalkan potensi di ibukota Inggris Raya ini.

Bila menilik laporan Muslim Britania dalam Angka edisi Januari 2015, ada beberapa statistik yang menarik. Persentase muslim yang menganggur terekam dua kali lebih tinggi dibandingkan profil masyarakat pada umumnya. Muslim keturunan Bangladesh juga tercatat sebagai kelompok masyarakat yang paling banyak menghuni fasilitas perumahan bersubsidi milik pemerintah. Dalam laporan ini pula, Dewan Muslim Inggris Raya menyebut sebagian masalah yang dihadapi komunitas muslim adalah dampak dari sistem yang belum sepenuhnya merangkul golongan minoritas.

Karena itu kebijakan Sadiq yang banyak ditunggu di antaranya pembangunan rumah bersubsidi, penerapan tarif transportasi murah, dan program untuk menjadikan kota ini lebih inklusif. Lebih dari separuh uang saku saya melayang untuk membayar kamar kos setiap bulan karena harga properti di kota ini sungguh mencekik. Biaya transportasi per hari juga bisa setara biaya memasak untuk enam porsi makan siang. Hal ini seringkali membatasi mobilitas warganya, padahal Greater London itu 2,5 kali lebih luas dari DKI Jakarta.

Publik London mengawasi setiap kebijakan Sadiq secara kritis. Baru-baru ini Sadiq sudah merasakan gelombang kemarahan warga yang menganggap dia tak konsisten. Pasalnya, dia gagal memenuhi komitmen mengunci tarif transportasi umum selama masa jabatannya sehingga sebagian komuter akan merasakan kenaikan ongkos. Di sisi lain, masyarakat mengapresiasi eksekusi kebijakan yang membuat berkendara dengan bis umum jadi lebih terjangkau.

Walau Sadiq sudah menegaskan berulang kali bahwa Islam hanyalah salah satu aspek identitasnya, tindakan publik mengaitkan keyakinan dan kepemimpinannya sepertinya tidak dapat dihindari. Misalnya saat Sadiq berencana merealisasikan larangan iklan yang menyudutkan orang berbadan tidak langsing—kebetulan yang dijadikan contoh oleh media adalah iklan perempuan berbikini—sontak sebagian nyinyir mengaitkan itu dengan perintah Islam untuk menutup aurat. Padahal kebijakan ini dipicu oleh keberatan masyarakat yang tidak suka terhadap iklan yang membuat konsumen malu dengan kondisi tubuhnya sendiri. Yang menarik, respon dari komunitas muslim di Inggris terhadap serangan semacam ini terbilang santai. Cukup banyak yang menanggapi dengan gaya satir sehingga saya sebagai pembaca jadi ikut tertawa.

‘Kebaperan’ sebagian orang terhadap sosok Sadiq sebenarnya bisa diwajari. Umat Islam saat ini terbilang tidak punya banyak tokoh global non-ulama yang bisa jadi panutan. Karenanya begitu muncul sosok Sadiq—yang dengan terbuka tampil sebagai practising muslim—sebagian kita seketika langsung jadi penggemar. Yang mungkin kita lupa, walaupun Sadiq mendirikan shalat lima waktu dan menjalankan puasa Ramadhan, dia hanya muslim biasa yang membuat banyak pilihan lain pula. Pilihan-pilihan politik itu kemudian membentuk sosoknya hingga dia bisa terpilih jadi walikota.

Umat muslim London sendiri nampaknya sudah siap mengelola ekspektasi sejak awal. Pasca-pemilihan walikota, mereka cenderung sekadar menaruh harapan seputar proses integrasi yang lebih baik. Sadiq digadang sebagai contoh sosok muslim Inggris kebanyakan, sehingga publik kota ini bisa memandang umat Islam senormal warga London lainnya.

Saya mengamini poin terakhir ini. Semoga kelak kursi kosong bis atau kereta di sebelah saya tak lagi jadi yang paling belakangan terisi. Semoga pula menyapa dengan ucapan “Assalamualaikum” tak terasa seasing itu lagi.

***

Shally Pristine. Muslim. Kandidat Master of Science in Social Development Practice di University College London (UCL), 2015-2016. Anggota tim peneliti UCL untuk isu perumahan di kampanye walikota London 2016 dalam kemitraan dengan London Citizens.

Iklan

8 pemikiran pada “Tak Perlu ‘Baper’, Sadiq Khan Hanya Muslim Biasa

    • ‘Baper’ itu bahasa gaul sekarang, singkatan dari bawa perasaan, Pa. Artinya sikap yang sensitif yang berlebihan. Jadi misalnya pas sadar kalau Sadiq Khan tidak seperti yang mereka bayangkan, kecewanya diumbar ke mana-mana. Padahal mereka bukan warga London juga jadi sebenarnya nggak perlu terlalu sedih gitu. Hehe.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s