Berlin, Grafiti, dan Kenangan

Saya memeluk ransel erat-erat sambil menengadahkan muka ke arah peta U-Bahn yang tertera di atas pintu gerbong kereta dengan konsentrasi penuh. Selain karena saya tidak mau terlewat turun di stasiun tujuan, kebetulan di hadapan saya ada pasangan sejenis yang sedang asyik berpelukan mesra dengan tangan yang saling bertaut dan mengunci. Jelas bukan pemandangan favorit saya.

Indikator lampu menyala di atas tulisan “Kottbusser Tor”. Aha! Waktunya turun.

Untuk urusan kebersihan stasiun di negara maju, kondisi Kottbusser Tor mengejutkan saya. Ada genangan air kecoklatan di bordes tangga turun yang beraroma pesing, dinding penuh tempelan pamflet iklan yang sudah tercabut sebagian, dan sedikit sampah di sana-sini. Kalau begini sih, bahkan lebih menang Stasiun Sudirman ke mana-mana.

Kondisi di luar stasiun pun di bawah ekspektasi. Di perempatan tempat persilangan dua jalur utama daerah Kottbusser itu ada salah satu bangunan pojok yang praktis tidak punya sepetak pun dinding yang bersih—semua penuh oleh grafiti dan bekas pamflet. Sedangkan grafiti di bangunan pojok seberangnya pun membuat saya tercengang. Ada yang berhasil membuat coretan di muka apartemen lima lantai, mungkin mereka dibantu Spiderman saat membuatnya.

Baru satu jam saya berada di Berlin, tetapi suguhan visual yang saya lihat di Kottbusser cukup mengobrak-abrik konsep kota di negara maju yang ada di benak saya.

Namun setelah saya ingat-ingat lagi, pengetahuan saya tentang Berlin memang minim. Kota ini tak pernah masuk daftar tujuan impian saya. Keinginan mengunjungi kota ini—sewaktu ada hari libur dari kursus singkat yang saya ikuti di Belanda—lebih karena ada beberapa teman kuliah yang sekarang tinggal di Jerman dan kebetulan reuni di Berlin pada tanggal saya libur. Berbekal tiket bus traktiran, saya pun meluncur ke Berlin.

Selebihnya, ingatan visual saya tentang Berlin disusun dari panel-panel komik Master Keaton karya Naoki Urasawa yang saya baca ketika SMP. Dalam empat cerita yang menggambarkan Jerman pasca-Perang Dingin tahun 1989-1992 ini, Berlin yang disajikan dalam cerita digambarkan dengan dinding tinggi dengan garis-garis tegas yang kaku, pagar pembatas dengan kawat berduri, juga bayangan kelabu.

Saat Perang Dingin, perbedaan ideologi telah membuat ibukota Jerman ini tercabik jadi dua teritori politik dari kubu yang saling berebut pengaruh. Sekira hampir 40 tahun, dua lapis tembok membelah Berlin jadi dua dan memisahkan ribuan sanak dari saudara. Namun akhirnya hegemoni di Berlin tergelincir juga pada pengujung 1980-an, tembok roboh dan menyisakan reruntuhan yang kemudian jadi media kreatif para seniman.

20150523_194632-1

Grafiti di sisi barat Tembok Berlin.

Kottbusser adalah bagian dari Kreuzberg, daerah di Berlin Barat yang terisolasi selama Perang Dingin. Setelah dinding runtuh, para imigran menyerbu Kreuzberg yang terlanjur jadi bronx untuk mencari penghidupan alakadarnya. Kalau dibaca di Wikipedia, daerah ini juga punya reputasi yang terkenal sebagai daerah dengan tingkat kriminalitas yang mencolok sekaligus populasi imigran yang dominan—lebih dari 30%. Menimbang dua faktor ini, tingkat ‘kebersihan’ stasiun Kottbusser Tor tadi jadi terasa wajar.

Sepanjang berjalan kaki menyusuri jalanan di Kreuzberg, saya jadi bisa paham bahwa grafiti adalah elemen visual yang wajar di sisi Berlin yang ini. Bila kita meneruskan perjalanan ke arah timur, akan makin banyak grafiti yang bisa dilihat. Entah sekadar corat-coret penuh vandalisme, gambar artistik karya seniman kota, atau mural yang menghiasi sisa Tembok Berlin itu sendiri.

Sepertinya seniman grafiti di Berlin memang bisa menggarap segala macam permukaan kota jadi media seni. Mulai dari yang paling umum seperti dinding bangunan, struktur penyangga rel U-Bahn dan S-Bahn, billboard menganggur, sampai lempengan Tembok Berlin tadi atau puing-puing sisa perang.

Wajar jika jenis yang terakhir tersedia cukup banyak di Berlin. Kota ini tercatat sebagai kota yang paling sering dibom seantero Eropa selama Perang Dunia II, sebanyak 363 kali dalam periode 1939-1945. Serangan udara telah menghancurkan sepertiga bangunan sipil di berbagai penjuru Berlin, termasuk City Palace yang berusia 500 tahun dan mencederai gedung bersejarah lain di kompleks sekitar Lustgarden.

Karena itu, musim semi 1945 adalah momentum bersejarah bagi penduduk Jerman. Di masa itu, tepatnya tanggal 8 Mei, Nazi menyerah kalah dan mengakhiri Perang Dunia II. Sebanyak 1,7 juta warga Berlin yang mengungsi akhirnya bisa pulang ke rumahnya.

20150524_124712-01

Puing-puing kaca patri beragam warna yang meleleh oleh panasnya ledakan bom di Berlin.

Tahun ini warga Berlin memperingati 70 tahun kebebasan itu. Sebuah pameran berjudul “May ’45-Spring in Berlin” mengemas citra dan narasi tentang ibukota Jerman yang remuk dihajar Sekutu dan Rusia ke dalam panel-panel instalasi berwarna hijau mencolok. Pameran ini mengambil tempat di enam titik bersejarah dalam masa itu: Brandenburg Gate, Lustgarten, Alexanderplatz, Postdamerplatz, Joachimsthalerplatz, dan Wittenbergplatz.

Saya beruntung datang di Berlin saat hari terakhir gelaran itu dibuka dan sempat mendatangi dua instalasi yang pertama. Di Lustgarten, sepasang pengunjung paruh baya memperhatikan satu per satu foto dan deskripsi di sana dengan seksama. Mereka berbincang lirih lalu tenggelam dalam gumaman sendiri, kemudian bergeser ke foto selanjutnya dalam hening.

Barangkali, perkara mengenang perang memang segetir itu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s