Sang Dia

Sopir menetralkan setir lalu memutar kunci. Akhirnya mesin mobil 4WD yang meraung dengan suara memekakkan sepanjang perjalanan itu padam juga. Tanda rombongan ekspedisi kami sudah tiba di tujuan: Desa Kendautana, Sumba Barat Daya.

Saya turun dan menyapukan pandang ke sekeliling. Pernah belajar soal arsitektur membuat saya tertarik memperhatikan bentuk bangunan di desa ini yang belum terjamah modernisasi. Dalam sekali lihat, saya bisa membedakan bangunan yang sakral dari yang profan alias sehari-hari.

Setelah upacara penyambutan, saya bertanya kepada Pater Mike, seorang tokoh agama di desa ini sekaligus juru bicara. Tebakan saya benar, bangunan di mulut jalan desa itu istimewa bagi mereka.

Bangunan dengan dimensi lantai sekitar 10×10 meter itu dua kali lebih besar dari rumah biasa di sekitarnya. Namun bukan ukurannya yang membuat saya yakin, melainkan bentuk atap yang menjulang belasan meter ke udara. Warga desa menyebut bangunan tersebut ‘Uma Pege’ atau rumah pintar, sesuai fungsinya sebagai tempat berkumpul dan bertukar pengetahuan.

Persis di tengah Uma Pege terdapat tungku pendiangan dengan bara yang terus menyala sepanjang hari. Rumah ibarat tubuh manusia dengan pendiangan sebagai jantungnya, maka bara harus tetap dijaga agar terus bernyawa.

Seulas asap dari tungku mengambang ringan di udara, menelusup di sela para-para, membumbung naik ke bubungan tertinggi. Sayangnya perjalanan si asap berakhir sekejap, dia menabrak susunan atap daun kelapa yang membuatnya tak lagi kasat mata.

Asap jadi perantara harapan-harapan baik yang diniatkan di Uma Pege dengan Yang Maha Kuasa. Karenanya atap bangunan dibuat tinggi untuk memberikan jalan bagi doa para warga.

Filosofi serupa dapat kita temukan pada arsitektur vernakular di banyak rumah ibadah nusantara. Dari Aceh sampai Papua, kita bisa menemukan bangunan dengan atap ditinggikan—sebagian hanya dengan satu titik puncak—yang berfungsi sebagai ruang untuk beribadah. Sadar atau tidak, masyarakat kita mentranslasikan cara terbaik menjangkau Sang Dia di atas sana adalah dengan membuat sumbu vertikal pada ruang fisik tempat melakukan ritual untuk-Nya.

Dalam bahasa Sunda, rumah disebut ‘bumi’ dengan pelafalan persis nama planet kita ini. Menariknya, hal ini sejalan dengan temuan sejumlah antropolog-arsitektur tentang konsep makro-kosmos dalam mikro-kosmos. Bahwa banyak kebudayaan di dunia memiliki arsitektur rumah atau kampung yang jadi representasi dari semesta yang lebih luas. Pendeknya, rumah adalah miniatur alam raya.

Saat menghabisi materi soal arsitektur vernakular di bangku kuliah, saya sering berpikir panjang tentang alasan manusia di era lampau saat memilih untuk memasukkan sedemikian banyak variabel dalam bangunannya.

Contohnya yang tadi saja. Perkara ruang paling sakral di rumah ibadah, orang Sumba Barat Daya memanifestasikannya jadi atap tinggi dan letak tungku di tengah bangunan. Untuk orang Hindu Bali, urusannya berbeda karena mereka memasukkan orientasi gunung vs laut dan timur vs barat ke dalam persamaannya. Sementara itu, perkara menonton wayang dari bagian depan pendopo atau dari dalam rumah joglo, memuat dua makna berbeda bagi orang Jawa.

Saat sedang membolak-balik catatan jelang UTS itu, mata saya tertumbuk pada satu kalimat di bagian pengantar materi tentang Ruang Sakral dan Profan. Sayang saya lupa nama pencetusnya. Setelah membaca kalimat itu berulang-ulang, kemudian semuanya jadi lebih masuk akal. Kurang lebih bunyi kutipannya begini.

Religi ada untuk menjelaskan perkara yang belum dipahami manusia.

Saya memaknai kalimat tersebut tidak terbatas kepada religi sebagai agama saja, melainkan semua urusan spiritualitas manusia. Bahwa atas hal-hal yang belum ada penjelasannya, ada kekuatan superior di luar sana yang jadi alasannya. Bahwa atas hal-hal yang berada di atas usaha manusia, ada Sang Dia, zat maha kuasa yang akan membereskannya.

***

Bos saya percaya resep keberhasilan sebuah negara ketika mengandung satu bahan penting; gerakan masyarakat sipil yang mampu mengimbangi pemerintah secara efektif. Karena keduanya sama kuat jadi bisa saling mengontrol. Ide saling kontrol ini serupa dengan Trias Politica dari Voltaire. Begawan dari Prancis ini yakin jika negara barulah ideal jika eksekutif, legislatif, dan yudikatif yang saling mengendalikan dalam relasi positif.

Mari kita cek resep itu dengan menilik keadaan saat ini. Jika betul multipihak itu mampu saling mengendalikan, kita tak perlu curiga saat melihat sekelompok wanita cantik berdemo dengan ikat kepala SAVE POLRI. Toh itu upaya mereka sebagai masyarakat untuk mengimbangi negara. Jika teori saling kontrol itu benar, mestinya negara ini sudah jalan dalam mode autopilot. Tetapi kita bisa merasakan negara ini masih limbung sana-sini. Perlu diakui, masih ada bahan yang kurang dari resep itu.

Belum lama ini saya berangkat kerja dengan naik bis kota seperti biasa. Saat melintas di dekat Gelora Bung Karno, ada satu spanduk yang terpasang di reling jembatan penyeberangan. Kemarin, spanduk itu belum ada. Tulisannya hanya sedikit, warnanya merah.

“Kami tidak takut Herkules. Kami punya Tuhan!” dalam font yang menggambarkan suara menggelegar.

Tentu pemilik spanduk tidak sedang membicarakan tokoh anak haram Zeus yang kisahnya jadi serial televisi itu. Herkules adalah dedengkot geng preman dari Timur yang telah lama bertikai dengan geng lainnya. Sayang Jalan Sudirman sedang lengang jadi saya tak bisa memperhatikan bagian ‘tertanda’ di spanduk dengan seksama.

Dalam sisa perjalanan itu saya berimajinasi. Jika Tuhan tidak ada, berapa banyak jumlah polisi yang harus ada di Jakarta sehingga saya bisa bilang “Saya tidak takut penjahat. Saya punya polisi!” dan merasa aman kapanpun dan di manapun.

Saya segera menepis khayalan mustahil itu. Beberapa bulan sebelumnya, telepon genggam saya disambar pengendara motor yang melaju kencang. Waktu itu saya berdiri menunggu bis persis di seberang pos polisi yang sedang ramai.

Saya yang tersadar dari syok langsung berteriak “COPEEET”, tapi kemudian hanya bisa melihat si perampok tertawa mengejek dari kejauhan dan sejumlah polisi yang tak hirau dengan teriakan yang saya jeritkan. Pilihan yang tersisa bagi saya hanyalah berdoa—dengan gigi gemeletuk saking geramnya—agar pelaku dibalas dengan ganjaran-Nya yang setimpal.

Kalaupun kita bisa membuat sistem untuk memagari, memasang mata, menangkapi, dan menghukum semua orang yang melanggar aturan, maka sistem ini tetap butuh sistem lain untuk memastikan fungsinya bekerja—misalnya benar aparatnya bertugas ketika ada kecopetan. Lalu perlu ada sistem yang memastikan sistem pemasti sistem ini efektif. Demikian terus sampai tak hingga.

Sayangnya sekarang sistem-ception nan mahal seperti itu tak mungkin kita mampu bayari. Bahkan dengan struktur yang ada sekarang saja, kita kepayahan mengongkosinya.

Menurut saya, bahan yang paling mungkin kita tambahkan ke dalam resep tadi adalah Tuhan. Ini faktor penting untuk mendongkrak motivasi intrinsik semua individu yang ada dalam sistem itu. Agar mereka mampu bersikap taat aturan karena merasa ada yang mengawasi. Agar menahan diri dari perbuatan merugikan orang lain demi kepatuhan kepada kekuatan yang lebih besar. Agar bergiat kerja penuh bakti dan tanpa pamrih karena keyakinan bahwa kelak semua amal akan mendapat balasan berlipat dari pemilik hidup.

Semua harapan itu dirapalkan dalam doa yang terucap lamat-lamat—dengan dua telapak tangan yang menengadah, atau kedua tangan bertaut di depan dada, atau sepasang tangan yang menjura di atas kening, atau sepasang tangan yang bersusun di atas sila, atau melarut bersama asap yang melayang ringan—menapaki titian tak kentara menuju alam nirmakna di atas sana.

Maka jika ada yang bertanya ‘Mengapa Tuhan harus ada?’ Saya menjawab, agar tatanan sosial di bumi ini—yang isinya 7 miliar manusia termasuk saya, Anda, 49 juta anak usia sekolah, 53 juta kelas menengah, dan 250 juta rakyat Indonesia—bisa berfungsi, setidaknya untuk sekarang-sekarang ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s