Rumah Besar dengan Satu Dapur

Sebatang damar dibakar di tengah meja tamu. Apinya meliuk-liuk.

Tuak dituangkan sampai memenuhi gelas, lalu diambil oleh tuan tanah selaku pemimpin adat Desa Adodo Molu, Yogosua Lanith. Kami—saya sebagai site visitor dan tujuh orang lainnya yang Pengajar Muda—duduk membentuk setengah lingkaran dengan Bapak Sua sebagai pusatnya. Kemudian Bapak Sua memimpin doa untuk upacara penyambutan orang baru dalam bahasa Fordata, sesuai lidah orang Tanimbar bagian utara.

Di mana Adodo? Bentangkan peta Indonesia di hadapan. Temukan formasi kepulauan Maluku di bagian timur lalu telusuri ke selatan hingga garis perbatasan dengan Australia. Telitilah gugusan nusa yang membujur di antara Aru dan Timor, di sana Tanimbar alias Maluku Tenggara Barat (MTB) berada. Desa ini ada di ujung pulau paling utara.

Kita—atau setidaknya saya—dibesarkan dengan buaian cerita tentang Maluku.

Tentang rerempah harumnya yang mengundang kapal-kapal Spanyol dan Portugis bertandang untuk dagang. Tentang heroisme pahlawan dan perkasanya Gunung Gamalama yang muncul di pecahan lembar uang seribuan. Tentang kepulauan yang jadi rahim bagi janin identitas Indonesia modern.

Maluku ada, di sana. Demikian nyatanya sampai ingin kita jelang, tetapi jauh dari jangkauan.

Ribuan kilometer jaraknya dari Jakarta. Dengan pesawat, jutaan rupiah harga tiketnya. Dengan kapal, butuh berminggu waktu tempuhnya. Program promosi dari operator seluler atau produk konsumen lainnya pun kerap mengecualikan Maluku—bersama Papua—dari paket normalnya. Belum lagi jika bicara indikator kemajuan macam mutu pendidikan, kesehatan atau akses komunikasi dan listrik.

Maluku seperti jadi yang liyan dari Indonesia, anak kandungnya sendiri. Semacam asingnya saya saat berada dalam tsnobak, ritual penyambutan ini.

Bapak Sua terus merapal doa dengan mata yang terpicing ke pelupuknya. Beberapa baris kemudian, akhirnya doa rampung juga. Dia memiringkan dan menepuk-nepuk tepian gelas hingga sebagian isinya luber ke lantai. Sebaris kalimat Fordata meluncur lagi dari mulutnya.

Bapak Sua kemudian mengangsurkan gelas tuak itu untuk saya minum. Aroma manis dari minuman beralkohol tinggi itu meruap dan menggelitik ujung hidung.

Melihat mimik muka saya yang cemas dengan instruksi itu, dia menyambung cepat, “Atau bisa kasih basah bibir sa, Ibu. Ini adatnya.” Saya cepat-cepat mendekatkan gelas ke mulut yang terkatup lalu menyorongkan gelas itu ke Yudha yang duduk di sebelah. Kemudian kami bergiliran meminum tuak—atau sekadar membasahi bibir—sampai giliran minum kembali ke Bapak Sua.

Dia menghabiskan sisa tuak di gelas lalu mulai bicara dalam bahasa Indonesia.

Keseluruhan makna ritual tsnobak adalah meminta izin kepada leluhur yang harus dilakoni pendatang saban memasuki sebuah tempat baru di MTB. Karenanya, tuan tanah berbicara dalam bahasa daerah setempat—ada empat macam di Tanimbar—agar roh para pendahulu bisa mengerti tujuan si pendatang. Tuan tanah juga harus meluberkan minuman sebagai simbol ajakan minum bersama kepada para leluhur yang sudah bersatu dengan tanah.

“Batawi,” kata Bapak Sua, “Begitu cara orang-orang dulu menyebut yang dari Jawa.”

Dia mengawali, dulu sekali ada orang Batawi datang ke Adodo namun setelah itu mereka pergi. Adodo dan Batawi jadi terpisah teramat jauh. Namun beberapa tahun yang lalu keadaan berubah. Ada guru dari Batawi datang ke Adodo dan membuat keduanya jadi bisa bertemu lagi. Guru-guru dari Batawi itu membawa ilmu-ilmu baru yang membuat Adodo menjadi lebih maju.

“Karena kedatangan guru dari Batawi, kita (Indonesia) jadi seperti rumah besar dengan satu dapur. Walaupun besar tapi terhubung,” ucapnya menutup penjelasan.

Adodo adalah ibukota Molumaru, kecamatan hasil pemekaran yang baru akan berusia empat tahun pada bulan ini. Desanya terletak di bagian yang agak mendatar di bagian barat Pulau Molu. Selama puluhan tahun, pulau karang yang berkapur ini terisolasi dari kemajuan karena tantangan geografis yang menghadang. Ketika akses transportasi umum masuk pada akhir 1990-an, barulah warga pulau ini punya kesempatan melihat perkembangan dunia luar dengan leluasa.

Mendengar metafora bijak Bapak Sua tentang rumah dan dapur, seketika hati ini jadi terasa hangat. Rasanya itulah Indonesia yang kita cita-citakan.

Dalam hati saya membatin, bukan hanya Pengajar Muda yang membuat kita jadi terhubung. Dalam setiap kemajuan yang dicapai di MTB, kami menyaksikan ada kerja bersama banyak pihak: para tokoh masyarakat yang arif, para abdi negara yang tekun melayani, para orang tua yang peduli, dan tentunya kepala sekolah dan jajaran para guru yang penuh bakti.

Namun kalimat itu tak sempat terlontar karena kami sudah pamit dari rumah Bapak Sua tanpa bisa banyak bicara. Begitu keluar ke pekarangan, kami sibuk meludah dan menyeka bibir untuk menghapus rasa tuak yang kencang. Sepertinya toleransi memang titik kompromi antara prinsip pribadi dan nilai dari luar yang ingin diakomodasi.

Saya menoleh ke arah jendela ruang tamu Bapak Sua, memastikan aktivitas ludah-meludah ini tak sampai menarik perhatian tuan rumah. Tak kelihatan seorang pun di ruang tamu yang temaram, sepertinya semua sudah masuk ke dalam.

Cahaya lampu damar masih menari-nari. Listrik PLN memang belum masuk ke Adodo.

***

Tulisan ini merupakan catatan saya seusai kegiatan pemantauan dan evaluasi lapangan ke lokasi Indonesia Mengajar ke Maluku Tenggara Barat, November 2014.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s