Padang Bengkok Bicara “Tabula Rasa”

(SPOILER ALERT: Tulisan ini memuat sebagian alur cerita film Tabula Rasa)

Saya setengah Minang dari pihak bapak. Dengan kata lain, saya adalah orang “Padang Bengkok” alias half-blooded Minang.

Karena saya tinggal di Bandung sejak lahir dan dibesarkan lebih dekat dengan kerabat dari pihak mama yang orang Melayu Bangka, saya merasa nyaris tidak ada pertautan antara saya dan budaya Minang kecual soal makanannya. Tiap hari, di meja makan keluarga selalu terhidang satu jenis masakan pedas–entah ikan goreng balado, gulai ayam, bebek lado ijo, atau paling tidak semangkuk sambal.

Menurut cerita mama, beliau berusaha keras belajar memasak masakan Padang sejak di hari-hari awal pernikahan. Khazanah kuliner Minang–yang amat kaya dan rumit–membuat mama butuh bertahun-tahun untuk menguasainya. Itu pun masih dapat predikat ‘beda sama masakan Maktuo (kakak perempuan papa)’ dari papa walaupun rasa dan aromanya sudah mirip masakan Padang dari warung langganan.

Sejak masih kelas 2 SD saya sudah sering ikut nimbrung di dapur saat mama memasak. Sembari sering melihat dan membantu tahapan persiapannya, saya sebenarnya sedang belajar langsung. Mungkin ini bagian dari kebanggaan di keluarga ketika punya anak perempuan yang mahir di dapur sedari masih kecil.

Mama mengajari, kunci kelezatan masakan Padang terletak pada bumbunya. Bumbu masakan Padang ada dua macam: basah dan kering. Jenis bumbu basah serupa bawang merah, bawang putih, cabai, kunyit, lengkuas, dan sejenisnya. Sedangkan bumbu kering semacam adas, kapulaga, kembang lawang, kayu manis, cengkih, cabai jawa, merica, dan sejenisnya. Selain itu ada juga deretan dedaunan penambah citarasa seperti daun jeruk, serai, daun salam, daun kunyit, dan teman-temannya.

Sedikit minyak sayur dijerang di dalam wajan. Bumbu basah ditumis sampai kelihatan agak berminyak, bumbu kering dimasukkan kemudian. Selanjutnya giliran dedaunan bumbu dimasak sampai layu. Baru masukkan bahan utama dan panaskan sampai warnanya memucat, lalu masukkan santan (kalau perlu) sambil diaduk pelan-pelan. Demikianlah benang merah urut-urutan memasak masakan Padang a la mama.

Awal bulan ini, akhirnya saya menonton film Tabula Rasa. Untunglah film idealis ini masih tayang di salah satu bioskop di Bandung. Saya memburunya sebelum turun layar karena mendengar komentar-komentar positif dari sekitar. “Bagus. Film tentang masakan Padang gitu lah, Shal,” begitu kata teman kantor saya.

Photo Still 1 - Tabula Rasa

Situs resmi Tabula Rasa mendeksripsikan film berdurasi 105 menit ini sebagai kisah tentang Hans (Jimmy Kobogau), seorang pemuda dari Serui, Papua, yang mempunyai mimpi menjadi pemain bola profesional. Namun nasib berkata lain, dan ketika Hans hampir kehilangan harapannya untuk hidup, ia bertemu dengan Mak (Dewi Irawan), pemilik warung Padang “Takana Juo”. Di tengah perbedaan Hans dan Mak, mereka menemukan persamaan. Makanan merupakan itikad baik untuk bertemu, dan lewat makanan dan masakan, Hans kembali menemukan mimpi dan semangat hidup.

Bagi saya, bagian yang menarik dari Tabula Rasa adalah saat film ini berhasil menukil sudut-sudut budaya Minang dan menyisipkannya di sana-sini dengan luwes.

Misalnya saat Uda Parmanto (Yayu Unru) terlibat konflik dengan Mak karena butuh uang untuk biaya kuliah anaknya, terlihat bahwa pendidikan anak menjadi prioritas pentingnya sampai dia rela bersitegang dengan pemilik warung. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Elisabeth Graves dalam disertasinya di University of Wisconsin. Dia menulis bahwa pendidikan memainkan peranan penting dalam hidup orang Minang sejak abad ke-19. Budayawan Mochtar Naim menulis, dorongan orang Minang untuk merantau adalah untuk mencari penghidupan yang baik. Selain untuk berdagang atau mencari pekerjaan, tujuan pemuda Minang keluar dari kampungnya juga untuk sekolah tinggi.

Nukilan lainnya adalah saat tokoh Mak diperlihatkan selalu menggunakan penutup kepala–bahkan saat sedang memasak di dapur yang pengap dan penuh asap–karena ada Hans, Parmanto, atau Natsir (Ozzol Ramlan) yang bukan mahramnya. Bicara budaya Minang berarti bicara syariat Islam juga karena orang Minang memegang prinsip adat basandi syara, syara basandi Kitabullah yang artinya adat bersendikan syariat Islam, syariat bersendikan Al-Quran. Adat Minang mengadaptasi kewajiban menutup aurat bagi perempuan dewasa dengan bentuk tikuluk–penutup kepala mirip bentuk tanduk kerbau–dalam pakaian tradisionalnya.

Walau demikian tak bisa dipungkiri, Tabula Rasa yang menyebut diri “Film Kuliner Indonesia Pertama” ini masih punya kekurangan yang mengganggu bahkan untuk adegan masak-memasaknya.

Misalnya saat meracik aneka bumbu, anehnya sutradara Adriyanto Dewo hanya menampilkan bumbu-bumbu standar–yang umum dipakai di berbagai masakan selain masakan Padang, semacam cabai, serai dan bawang. Tidak ada penggambaran belasan bumbu lain yang vital membentuk citarasa khas misalnya di rendang tacabiak atau dendeng batokok lado ijo, kecuali pemunculan daun ruku-ruku saat memasak gulai kepala kakap. Kalau begini, mengganti latar dari kuliner Minang jadi Sunda pun jadi tak menyebabkan perbedaan mendasar dari filmnya.

Urut-urutan waktunya pun membingungkan saya. Mak digambarkan pergi ke pasar di pagi buta, lalu ketika dia pulang ketika hari mulai terang, warung dibuka. Masakan mulai dimasak, etalase makanan masih kosong. Jika memasak rendang tacabiak saja butuh waktu empat jam sedangkan mereka cuma punya dua tungku, kapan waktu memasak makanan lainnya saat pelanggan mulai datang untuk makan siang?

Satu lagi keganjilan dalam segmen berbelanja ke pasar. Setiap ke pasar, Mak hanya menggunakan satu tas belanja yang ketika pulang akan agak penuh terisi belanjaan. Cukupkah belanjaan dalam tas belanja ukuran standar itu untuk memenuhi 10 piring lauk yang tersaji di etalase? Bahkan Mak hanya belanja seikat-dua ikat daun singkong setiap harinya. Ini jumlah yang terlalu sedikit untuk mencukupi kebutuhan satu warung seukuran Takana Juo. Detil-detil penting seperti ini tak terjelaskan sampai akhir film.

Pemilihan istilah tabula rasa–yang diambil dari bahasa Yunani–sebagai judul memang tak punya kaitan langsung dengan Minang dan budaya masak-memasaknya. Namun frase bermakna ‘papan kosong’ ini tepat untuk menggambarkan konflik masing-masing orang yang akhirnya selesai di akhir film. Mak mampu berdamai dengan kepergian anak kesayangannya. Uda Parmanto menerima persaingan bisnis di antara mereka dan siap bermain bersih. Natsir mengakhiri agresi dengan Uda Parmanto. Hans juga sudah menguatkan hati untuk menghadapi rasa malu dan pulang ke Papua.

Hanya saja, penyelesaian beberapa konflik sepertinya tak mulus. Misalnya konflik Mak yang tak mau memasak gulai kepala kakap kemudian jadi bersedia. Jika saya tidak bertanya kepada teman yang juga menonton film ini, saya mestilah masih penasaran sampai sekarang soal alasan masakan keramat itu bisa turun ke etalase. Selain itu, adegan Hans yang pergi di suatu pagi–setelah semalam selesai menelepon keluarganya–tanpa membawa apa-apa, membuat saya bertanya-tanya tentang ke mana perginya sepatu bola yang dibelikan mama panti dan adik-adiknya di Papua.

Di atas itu semua, bagi saya Tabula Rasa tetap menyenangkan. Menonton film Tabula Rasa adalah nostalgia kembali ke hari-hari penuh bumbu bersama mama, ke akar keturunan saya dari sebelah papa.

Melihat Mak yang memasak dengan memegang teguh prinsipnya memasak dengan bahan-bahan terbaik, bahkan dengan konsekuensi menipiskan marjin bisnisnya, rasanya seperti melihat mama dan usaha makanannya yang tak pernah berhasil sampai sekarang. Melihat Mak, Uda Parmanto, dan Natsir mereka-reka ingatan tentang kampung halaman–yang sudah hancur karena gempa tahun 2009–dan tak lagi punya tempat untuk pulang, rasanya seperti melihat papa yang sudah lama tak mudik ke kampungnya di Limapuluh Koto.

Satu lagi, tulisan ini bukan ulasan serius bergaya kritikus untuk film Tabula Rasa. Ini sekadar ceracauan rindu seorang Padang Bengkok saja. 🙂

Iklan

7 pemikiran pada “Padang Bengkok Bicara “Tabula Rasa”

  1. Hehe.. baru denger istilah ‘Padang bengkok’ nih Shal. Oh ya, waktu itu gw nambahin juga di postingan gw ttg penyelesaian masalah yang terlalu cepat atau kurang jelas di beberapa adegan. Daaan..bener banget soal belanjaan Mak itu. Kok ya dikit banget kayak belanjaan rumahan aja ya.
    Sepertinya Bushally mahir dalam masak-memasak nih. Sini sini ajarin dong masak masakan minang.

    • Iyah betul tuh poin tambahan lo juga. Itu soal editing apa gimana ya jadi nggak mulus gitu? :3

      Ayoo kita belajar masak-masak. Permanen tinggal Jogja nih, Cha?

  2. Yup saya baru tengok, being a minang born in malaysia myself..memang seronok sekali melihat masakan masakan minang yang di tunjukkan … seperti masakan arwah bonda.. cerita juga menarik.. cuma 4 orang pelakun utama.. simple yet sangat menarik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s