Mantra Para Idola dan Coklat Warta

Saya berutang banyak kepada SDI Ibnu Sina, tempat saya menghabiskan kelas V dan VI. Di sinilah kecakapan menulis saya semula diasah.

Waktu saya duduk di kelas V, guru-guru menginisasi penerbitan buletin sekolah bernama Warta Ibnu Sina dengan siswa sebagai pengisi utama. Jumlah halaman buletin sederhana yang kemudian disebut Warta ini hanya bilangan jari, namun ada banyak rubrik untuk aktualisasi bakat siswa. Mulai dari semacam surat pembaca, halaman komik, artikel laporan utama, puisi, sampai tebak-tebakan.

Warta Ibnu Sina
Dokumentasi edisi pertama Warta yang dijadikan kartu ucapan Idul Adha oleh Ibrahim, salah satu adik kelas.

Saya termasuk salah satu kontributor rutin Warta. Tulisan perdana saya waktu itu tayang di rubrik puisi, kalau tidak salah temanya tentang kisah kepahlawanan Hamzah, pamanda Rasulullah. Maklum, kan kami SD Islam jadi kontennya pun bernuansa islami. Ahey!

Setelah itu, tulisan demi tulisan saya lancar mengalir mengisi halaman Warta. Saya pun terpilih jadi salah satu perwakilan sekolah untuk mewawancarai Rektor ITB saat itu. Hasil wawancara kami dimuat di Percil–halaman anak koranPikiran Rakyat yang terbit tiap Ahad.

Giatnya saya bukan tanpa sebab. Motivasi itu muncul karena setiap penulis artikel yang dimuat akan mendapatkan sebungkus coklat; entah coklat batangan, permen coklat, bola biskuit bersalut coklat, dan banyak lagi. Untuk siswa sekolah fullday–yang tak punya kantin dan terletak jauh dari toko kelontong–ada hadiah semacam itu benar-benar jadi insentif yang memacu.

Akhirnya, setiap saya ingat tenggat akhir pengumpulan karya Warta akan ditutup, saya bersegera mencari ide. Sekadar surat pembaca pun jadilah, asalkan nanti bisa beroleh sebungkus coklat.

***

Saya sempat bingung kalau diminta mengajari orang cara menulis.

Bagi saya, menulis yang baik itu ya dimulai dengan ditulis saja. Saya amat jarang pakai teori–lebih tepatnya tidak tahu–cara menulis yang baik. Semua teknik menulis saya pelajari sambil melakoni tugas jadi wartawan dan kini berkutat di bidang media. Bila enak dibaca, terasa pas susunannya, maka jadilah tulisan yang baik itu.

Walau demikian, saya sering penasaran juga soal ‘mantra’ rahasia agar tulisan saya bisa menyihir pembaca seperti para idola. Waktu itu, Pramoedya Ananta Toer dan Goenawan Mohamad yang jadi patron saya. Maka saat sudah menjadi wartawan dan punya banyak akses di bidang media, saya mulai mengikuti pelatihan-pelatihan kepenulisan untuk memburu si mantra rahasia.

Setelah melahap banyak tulisan karya orang, saya menyimpulkan sepertinya saya selalu terpesona kepada dua macam tulisan.

Pertama, tulisan yang menggunakan diksi bahasa Indonesia cerdik dan berkelas. Semacam penggunaan kata ‘rembang’ untuk menjelaskan saat ketika matahari sore tepat mencium kaki langit sebelum ditelan cakrawala atau ‘semenjana’ yang jadi padanan efektif kata ‘medioker’.

Di satu sisi, adalah tugas media untuk mendidik masyarakat perihal penggunaan kosa kata yang makin jarang digunakan seperti ini. Di sisi yang lain, kata-kata ini keren luar biasa dalam menggambarkan makna yang mau diungkapkan. Namun perlu hati-hati dalam menggunakan diksi seperti ini. Jangan sampai membuat orang terlalu banyak mengerenyit dan membuka kamus untuk mengetahui artinya.

Kedua, tulisan yang lincah meramu banyak perspektif untuk membedah isu tertentu. Misalnya mendeterminasi fenomena ekonomi makro pakai rumus fisika, membahas deklarasi kandidat calon presiden dengan kilas balik ke langgam arsitektur yang pernah jadi tren, atau sekadar membicarakan hal remeh-temeh semisal kelakuan polisi lalu lintas masa kini sambil menapaktilasi teladan Jenderal Hoegeng.

Ada dua senior saya di Republika yang piawai betul meramu kedua mantra ajaib tadi jadi tulisan yang berbobot sekaligus indah.

Yang satu, hanya terpaut satu angkatan di atas saya, namanya Fitriyan Zamzami. Sebenarnya dia biasa dipanggil Blak, sedangkan inisial tiga hurufnya yang biasa diparkir di akhir tulisan adalah fyz. Tetapi karena selalu menggunakan kata “kami” untuk menyebut kata ganti orang pertama, saya panggil dia Kak Kami. Tulisannya bisa dibaca di blog pribadinya di sini.

Yang kedua adalah redaktur halaman gaya hidup, namamya Darmawan Sepriyossa. Ayah tiga anak ini bicara dengan logat Sunda yang kental, maklum orang Bandung. Inisial tiga hurufnya dsy, karena itu saya biasa menyapa dengan panggilan Kang D(e)sy.

Pertama kali saya tahu ihwal makna lain kata rembang–dengan diawali r, bukan R seperti kota tempat berpulangnya Kartini–ya dari tulisan Kang Desy. Saat saya kebingungan menyudahi tulisan yang alurnya berlari sana-sini, dia mengajari saya cara menutup plot dengan teknik loop–menggunakan contoh yang sangat baik dari tulisan Dua Jam Bersama Hasan Tiro oleh Arif Zulkifli. Semua dia lakukan dengan senyum sumringah dan kesabaran penuh.

Seketika dia jadi favorit saya. Saya termasuk peserta yang antre mendaftar paling awal ketika Kang Desy membuka kelas internal penulisan feature bagi reporter junior. Saat ada yang bertanya soal wartawan yang gaya penulisannya saya teladani, saya akan jawab tanpa ragu: Darmawan Sepriyossa.

Hampir dua tahun saya berguru di Republika sebelum mundur untuk menjadi Pengajar Muda. Selepas saya keluar, tak lama kemudian Kang Desy dipindahkan ke anak perusahaan lain. Kabar terakhir, dia malah sudah menyeberang ke media kompetitor per awal tahun ini.

Waktu bergerak maju sampai Pemilihan Presiden (Pilpres) kemarin yang diramaikan gonjang-ganjing kampanye hitam. Hari itu, si idola yang lihai meramu mantra menulis ini melintas lagi di hidup saya.

Betapa kagetnya saya ketika dua orang di belakang Tabloid Obor Rakyat–yang getol menebar berita sesat soal Jokowi–mulai terungkap. Salah satu dari dua tersangka tadi adalah orang yang sama yang mengajari saya cara menyudahi plot. Setengah tak percaya, saya menyaksikan Kang Desy muncul di layar kaca dengan mikrofon dari aneka media massa tersorong sana-sini meminta klarifikasi.

Saya butuh dua-tiga kali membaca pledoi darinya tentang Pilpres, Jokowi, dan Obor Rakyat. Pada akhirnya pun, saya masih belum paham soal motivasi atas pilihan tak populernya ini. Saya mengontak kawan-kawan yang masih aktif jadi wartawan dan mencari tahu soal ini, sayangnya tak ada yang cukup dekat untuk tahu urusan persisnya.

Saya menebak-nebak, barangkali ini sungguh soal urusan yang sangat lumrah dimiliki manusia, terlebih posisinya sebagai ayah dan kepala keluarga. Semacam motivasinya saat mengambil keputusan pindah ke lapak kompetitor. Mungkin pula semacam motivasi yang sama seperti saya dulu saat getol mengisi Warta; karena ingin dapat coklat.

Entahlah, saya tidak tahu pasti.

Pikiran saya mengawang.

Saya meraih tetikus imajiner, mengarahkannya ke daftar para idola, lalu meng-klik opsi “Unfavorite” dari nama Darmawan Sepriyossa.

Iklan

3 pemikiran pada “Mantra Para Idola dan Coklat Warta

  1. 😥
    Shal, gw barusan baca tautan pledoinya (walaupun cuma sekali aja bacanya). Nggak ngerti alur pikirnya. Berbagai kutipan dan kisah jurnalis macam Marco dan TAS jadi terasa sebagai justifikasi. Wallahua’lam.
    Btw sementara lo “unfavorite” Mas Dsy, gw tetep membiarkan lo berada dalam deretan penulis favorit gw. 😉 Pantesan yaa berbakat gini, udah nulis dari kecil sih hehe.. canggih lah. Sepakat soal menulis yang baik ya dimulai dengan menulis saja. Jadi inget akun blog Multiply gw dulu namanya ‘nulisaja’. :p

    • aaak buica setia sekali membaca tulisan2 sayah. hihi. makasih ya, semoga bisa bermanfaat. memang menulis (refleksi) itu bagian penting dari pembelajaran orang dewasa. 😀

      tulisan di empi udah dimigrasi semua ke yg sekarang kan ya?

      soal pledoinya sih, ya sudahlah. 😦

      • Iya dong..pembaca setia. :”D
        Yang di Multiply ada blog migrasinya sendiri shal..di blogspot. Yang itu ga pernah gw perbarui, yah sekadar arsip aja..kenangan coret2an gw di masa silam. Cuma sebagian yang gw pindahin ke blog ini secara manual. 🙂
        Kangen bushally.. Main2 dong ke Jogja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s