Sekeping Keberanian dari Kue Keberuntungan

Disambut senja di Bandara Indira Gandhi

Saya melirik sepanjang lorong pesawat sembari berjalan mencari kursi 6F. Kursi di sepanjang kanan dan kiri Boeing 737-300 ini dipenuhi oleh penumpang dari etnis Tamil. Praktis hanya tiga penumpang berkulit terang–saya, teman saya Furi, ditambah satu bule di baris 2–di penerbangan Air Asia menuju Kolkata ini.

Kami duduk dan menunggu. Penumpang lain sepertinya tak berhenti hilir dan mudik. Sudah 25 menit berlalu dari waktu keberangkatan yang seharusnya namun pesawat masih parkir di pinggir lorong 75 LCCT Kuala Lumpur. Pria berbaju merah maju ke arah kokpit, berbicara dengan nada tinggi kepada kepala pramugari.

Saya bergumam dalam hati. Entah firasat apa yang ingin disampaikan semesta. Sejak sebelum berangkat, ada-ada saja hambatan yang memperberat langkah kami menuju India.

Mulai dari kurs rupiah yang merosot tajam di akhir 2013 padahal belum satupun tiket kereta dan pesawat domestik yang ada di tangan. Awal 2014 juga diwarnai maraknya berita pemerkosaan dan pelecehan terhadap wanita di kota besar semacam Delhi dan Mumbai, bahkan juga menimpa seorang turis perempuan asal Inggris.

Papan imbauan di gerbong kereta di India

Papan imbauan di gerbong kereta di India

Terakhir, kabar pengunduran jadwal keberangkatan dari Kuala Lumpur dari pukul 3 sore jadi pukul 10 malam menjungkirbalikkan itinerary yang sudah dibuat sebelumnya. Minusnya lagi, perubahan jadwal menyebabkan kami akan sampai di Bandara Netaji Subhash Chandra Bose pukul 3 pagi. Apesnya lagi, hotel kami tak menyediakan jasa airport transfer.

Hampir semua kenalan pun bertanya dengan alis terangkat saat saya berkata akan berperjalanan ke India.

Kenapa India? Orangnya ngotot-ngotot.

Bahaya, lho. Banyak perkosaan. Apalagi kalian berdua perempuan.

India bukannya jorok? Yakin mau ke sana?

Kami tak ingin berangkat dengan gamang. Berbagai upaya kami lakukan agar sebisa mungkin menekan risiko yang terjadi. Furi mengontak dosennya yang kini jadi diplomat di Delhi. Saya mengonfirmasi semua penginapan yang akan kami datangi dan memastikan ketersediaan kamar di waktu kedatangan.

Hanya saja, kegelisahan yang sudah berhasil diusir jauh jadi nyata lagi di dalam kabin malam itu.

Entah apa pokok masalahnya, kepala pramugari balas menjawab pria berbaju merah tadi dengan nada tinggi pula. Bahasa Inggrisnya yang beraksen melayu beradu cepat dengan logat Tamil yang kental dari pria berbaju merah. Saya tak berhasil menangkap satupun kalimat perdebatan mereka, yang jelas ada masalah.

Tetiba kepala pramugari meraih gagang pengeras suara dan mengingatkan para penumpang agar segera duduk. Dia menutup pengumuman dengan agak keras, “Kita akan segera berangkat dengan penumpang yang siap bekerja sama.”

Seorang petugas keamanan bandara berkulit coklat masuk tak lama setelah pengumuman. Dia mencoba menertibkan sekelompok bapak-bapak yang berdiri menggerombol di lorong dekat baris 8 dan 9. Mereka berdebat lagi. Sekuriti melayu ini berbicara lewat handy talkie.

Tiba-tiba pria berbaju garis-garis, salah satu bapak-bapak yang berdebat dengan sekuriti, maju ke baris depan dan berorasi dalam bahasa Tamil. Melihat ada tiga orang asing yang celingukan, dia segera mengganti orasinya jadi bahasa Inggris.

Pria berkumis ini mengajak semua penumpang untuk memboikot pemberangkatan sampai ada kejelasan soal seorang teman rombongan mereka yang ditahan, konon tanpa alasan jelas, oleh pihak Imigrasi Malaysia. Dia meminta kami berdiri dari kursi sehingga pihak penerbangan tak bisa memenuhi prosedur syarat keberangkatan sampai teman mereka “dibebaskan”.

Ibu muda dengan dua infant di baris belakang kami sibuk menenangkan putra-putrinya yang antusias ingin tahu lebih banyak.

“Nasionalisme kita dipertaruhkan. INI KEHORMATAN KITA SEBAGAI ORANG INDIAAA!” katanya dengan suara menggelegar.

Orasinya terhenti saat kepala sekuriti berkulit gelap masuk kabin. Lelaki dengan kumis baplang dan lengan sebesar kentongan ini–bayangkan saja sosok Inspektur Vijay di film-film India–berbicara keras kepada para pentolan boikot pakai bahasa Tamil. Akhirnya semua penumpang mau duduk walau bapak-bapak tadi masih gusar dan terus saja berceloteh.

Furi memasang earphone, menyalakan iPod-nya, dan bersandar. Dia mencoba tidur. Saya melakukan hal yang sama, menutupkan pashmina di sekitar kepala.

Belum sampai tanah Bollywood saja, perjalanan ini sudah luar biasa penuh drama.

***

Hasrat saya untuk berkunjung ke India sudah terpupuk lama.

Awalnya waktu masih jadi mahasiswa tingkat kedua, mata kuliah Arsitektur Pramodern paling memikat saya. Mulai dari stoa dan agora tempat para masyarakat berbudaya, lalu kemegahan Forum Romanum sampai riwayat Hagia Sophia. Semua lengkap tersaji dalam lembar-lembar slide OHP dari Ibu Wakil Dekan.

Semua itu membuat pikiran saya terlempar ke beribu tahun ke belakang, membayangkan keluhuran peradaban yang mampu menghasilkan itu semua.

Namun dari deretan bangunan-bangunan termegah pada zamannya, arsitektur pramodern di tanah Indus-lah yang paling menggoda. India tak hanya paduan serbaneka kebudayaan–sebut saja di antaranya Mughal, Aria, Bengali, dan Tamil–namun juga mencatat sejarah panjang peradaban manusia.

Banyak pula rumpun kebudayaan India yang bersambung dengan milik leluhur kita. Tak perlu sampai menyebut Mahabharata dan Ramayana. Garuda sang lambang negara pun adalah kendaraan Dewa Vishnu.

Sejak itu Hindustan jadi negeri dambaan. Dalam rupiah demi rupiah yang disisihkan, saya menitipkan harapan. Semoga ada tiket murah ke kampungnya Shahrukh Khan. Hehe.

At Thyagaraya Nagar Chennai

Suasana di dalam toko sari di Chennai, pantai timur India

Doa itu terjawab Juni 2013. Air Asia sedang promosi masif. Tiket Kuala Lumpur-Kolkata dibanderol hanya Rp 400 ribu saja. Tiket pulang via Chennai sekitar Rp 100 ribu lebih mahal. Ditambah tiket pulang pergi Kuala Lumpur-Jakarta, total jenderal jadi hampir Rp 2 juta.

Segera saya mencolek Furi, teman yang indekos di depan kamar, untuk bergabung dalam petualangan ini. Sekali waktu dulu, kami pernah berkelakar ingin traveling ke India bersama beberapa teman lainnya. Tak ada kabar dari yang lain ketika dikontak padahal penerbangan harus segera dipastikan.

Akhirnya saya dan Furi membulatkan tekad untuk berangkat berdua saja. Dua cewek backpacking ke India kedengarannya keren banget.

Euforia itu terus membumbung, sampai satu per satu kabar minus berdatangan dan mulai mengerdilkan nyali kami.

***

Begitu membaca tulisan “Republic of Indonesia Embassy” di plat gerbang masuk sebuah bangunan berlanggam international style, rasanya saya ingin segera meloncat dari taksi dan memburu turun. Setelah menempuh penuh 16 jam penuh adrenalin dan emosi untuk berpindah dari Kolkata ke Delhi, saya benar-benar ingin istirahat yang tenang malam ini.

Pesawat Air Asia terlambat bertolak dari Kuala Lumpur hampir sejam berkat boikot rombongan pria Tamil tadi. Sepanjang perjalanan, saya dan Furi agak sulit tidur karena bau kaki menguar tajam dari dua infant di belakang kami yang melepas sepatu dan kaus kakinya.

Begitu sampai di Kolkata, hotel Esplanade Chambers yang beralamat di Chadni Chowk ternyata sulit dicari. Setelah berputar-putar di kawasan tengah kota bersama supir taksi bandara–yang langsung bilang Hindi, No English begitu kami masuk ke mobilnya–ternyata hotel itu terletak di lantai dua restoran lain. Saya dan Furi harus bekerja keras membangunkan penjaganya yang tertidur lelap di dalam.

Yap, itu kami. Dua perempuan berteriak-teriak dari balik terali toko di Kolkata, jam 4 dini hari.

Setelah berhasil masuk dan merebahkan diri di atas dipan, mata ini belum bisa terpejam sempurna. Belum ada kejelasan tentang pekerjaan terbesar begitu sampai Kolkata: membeli tiket kereta.

Sebelum meninggalkan Jakarta, kenalan kami di India tak bisa memastikan tiket kereta Kolkata-Agra telah di tangan. Maklum, sedang ada festival besar. Dia menyarankan kami membeli langsung di Kolkata karena lebih mudah dibandingkan lewat agen perjalanan langganan mereka.

Resepsionis hotel yang baru setengah sadar saat kami datang, Muhammad Arif, menyarankan agar kami menunggu pukul 9 pagi agar bisa bicara dengan manajernya.

Mau langsung berangkat ke stasiun Howrah, kami tak berani karena tak tahu di mana ada koneksi internet bila sudah keluar dari hotel ini. Tempat ber-WiFi gratis macam McDonalds tetap mensyaratkan registrasi via nomor ponsel India. Padahal, mau membeli nomor perdana ponsel India pun prosedur berbelit.

Kami menunggu kedatangan Aftab, si manajer, sambil menyantap sarapan chole bathure, semacam roti tipis goreng lalu dimakan dengan kuah kari. Ternyata Aftab pun tidak bisa membantu banyak. Kabar dari agen langganannya, semua kereta menuju Agra hari itu penuh, bahkan hingga dua hari berikutnya.

Bayangkan sedemikian banyak dan panjang rangkaian kereta, semuanya dipenuhi orang India. Semuanya.

Baiklah, saya mulai stres karena tidak kebagian tiket.

Akhirnya kami mengambil rencana terakhir. Mencari penerbangan hari itu ke Delhi, baru bertolak ke Agra keesokan harinya. Ini bukan preferensi awal kami karena harga tiket yang melangit. Di agen langganan hotel, kami harus bayar Rp 4 juta per kepala jika ingin naik pesawat. Ini jauh di atas bujet kami.

Furi mencoba peruntungan dengan mengontak agen langganan dosennya sambil berharap tiket pesawat di sana tak lebih dari Rp 1 juta per kepala.

Balasan datang tengah hari. Kabar baiknya, ada penerbangan Indigo Air yang paling dekat dengan anggaran kami, harganya Rp 1,6 juta. Kabar kurang baiknya, penerbangan itu akan berangkat pukul 3 sore.

Dengan mengambil napas panjang–karena tambahan biaya Rp 1,6 juta jelas membuat anggaran backpacking kami out of budget namun itu lebih baik daripada terjebak di Kolkata–akhirnya akad transaksi itu dilakukan dan salinannya masuk di email Furi.

Waktu kami kurang dari tiga jam.

Saya dan Furi berkemas dengan ngebut lalu check out dari hotel. Dengan bantuan Arif, kami menelusuri jalanan Kolkata untuk mencari warnet agar bisa mencetak tiket. Lalu kami minta ditunjuki restoran yang halal untuk makan siang.

With Furiyani at Green Park Metro Station

Restoran tempat kami makan, Anand, kelihatannya cukup bonafid bila melihat para pelanggannya yang bergaun dan berdasi. Pelayannya pun tak pakai alas kaki. Namun kami tak punya banyak waktu untuk mengagumi detil-detilnya karena harus bergegas pergi ke bandara.

“To the airport. Meter?” tanya saya kepada pengemudi taksi, minta dia menggunakan argo.

“Yes,” kata si supir sambil menggoyangkan kepala ke kanan-kiri.

“English?” tanya saya lagi.

“Hindi. No English,” katanya tegas. Kami mati kutu lagi.

Cepat berangkat ternyata tak berarti cepat sampai juga. Perjalanan bandara ke pusat kota yang hanya perlu ditempuh selama 40 menit di dini hari ternyata butuh waktu dua kali lipatnya saat siang. Pasalnya karena kemacetan Kolkata parah juga. Satu lagi yang cukup mengganggu adalah kebiasaan pengemudi di Kolkata untuk menglakson di mana saja. Kira-kira rasanya seperti Jakarta campur Medan.

Tiba di bandara, saya dan Furi langsung melesat ke konter check in. Untung pesawat masih belum boarding. Dengan napas tersengal, kami berjalan pelan ke ruang tunggu. Hanya sekitar lima menit duduk menatap dinding kaca bandara yang baru diresmikan itu, petugas sudah memanggil kami untuk masuk ke pesawat.

Setelah sampai di Bandara Indira Gandhi, kami langsung menghampiri salah satu stan taksi bandara yang buka layanan di depan gerbang kedatangan.

Saat menunggu giliran mendapatkan taksi, saya sempat merenungi seluruh rangkaian keberangkatan ke India hingga sampai di sini. Rasanya kata-kata semua orang yang meragukan rencana kami seperti berdengung di telinga. Liburan seharusnya menyenangkan.

Lamunan itu tak lama mengganggu saya. Sebuah taksi dengan mobil model lama bercat hitam dengan atap kuning sudah menunggu kami. Berbekal sebaris alamat “Kautiliya Marg, Chanakyapuri” kami menuju kedutaan Indonesia.

Syukurlah saya dan Furi tidak sampai tersasar jauh saat mencari alamat KBRI di Delhi. Awalnya kami sempat tegang karena ternyata supir yang lagi-lagi Hindi, No English ternyata buta wilayah Diplomatic Enclave di ibukota negaranya sendiri. Setelah sempat tanya ke beberapa kedutaan, ternyata posisi KBRI dekat perpustakaan Jawaharlal Nehru.

Rasa diterima dan ada di rumah langsung terasa di sini. Kami disilakan masuk ke halaman depan tanpa prosedur berbelit di sekuriti gerbang. Keberadan dua perempuan yang masing-masing menggendong tas carrier 50 liter di halaman kedutaan langsung mengundang perhatian dari orang yang sedang seliweran.

“Assalamualaikum, mau cari siapa?”

Laki-laki berperawakan tanggung menegur kami yang masih celingukan. Sepertinya dari jilbab yang saya dan Furi kenakan dan gaya memakainya jadi identitas yang mudah dikenali bahwa kami muslim Indonesia.

Dia mengantar kami ke lantai 3, tempat dosen Furi kini berkantor sebagai atase pendidikan. Rencananya, selama dua hari di Delhi kami akan menginap di rumah beliau.

Di ruangan 6 x 8 meter yang dibagi dua untuk ruang atase dan ruang asisten itu, Pak Son Kuswadi menerima kami.

Melihat dua orang anak yang kelelahan setelah datang dari tempat jauh, tanpa banyak basa-basi Pak Son mengajak kami makan malam. Karena sudah agak bosan makan sajian berempah sejak masih di Malaysia, kami memilih tawaran makan di sebuah restoran bermenu oriental.

Dalam setengah jam, tom yam, kambing goreng kering, dan tahu asam manis terhidang di meja. Namun yang paling istimewa adalah kue keberuntungan yang tersaji setelah hidangan penutup. Kue ini seperti jadi awal keberanian baru bagi saya untuk melanjutkan petualangan di India.

Di dalam kue saya tertulis

Fortune favours the brave, and you one of them.”

Saya mengingat-ingat ke belakang. Toh, saya bisa menjejakkan kaki sampai ke sini pun adalah lompatan besar mengatasi semua ketakutan dan kemustahilan yang selama ini terus menunda. Mulai dari ketersediaan tiket pesawat yang terjangkau, kepastian jadwal, sampai jaminan keamanan dan keselamatan. Perjalanan ini seperti obat pahit yang terus mencekoki agar saya jadi orang yang lebih gigih memperjuangkan impian yang sudah lama didambakan.

Misalnya ya seperti ke India ini. 🙂

With Furiyani at New Delhi

Kue keberuntungan Side Wok Restaurant

Iklan

7 pemikiran pada “Sekeping Keberanian dari Kue Keberuntungan

  1. akhirnya gw baca juga cerita lo di India, hehe. sampai lupa kl lo pernah kesana. seru banget ini shal. kagum dengan keberanian kalian. perjalanan yang banyak lika-liku nya gini justru yang lebih berkesan

  2. Mba…. Salam kenal yahh.. Mba ak boleh minta alamat email?? Pengen nanya2 dikit nih… Ak besok ke India cam agak deg2an… Hehehe thank u

  3. Hii mbak Shally salam kenal
    saya maret`15 ini akan melakukan perjalanan trip ke luar negeri pertama kali nya
    berawal dari tiket promo air asia jkt-kolkata via KL
    saya ada beberapa pertanyaan yg ingin saya tanyakan
    1.Saya mempunyai waktu luang transit di KL selama 6 jam untuk flight kl-kolkatta , apakah saya bisa keluar imigrasi untuk sight seeing KL ? berhubung tiket saya itu bukan jkt-kl lalu kl – kolkatta , tetapi jkt-kolkatta ( via kl)
    2.Untuk visa jika membuat di kedutaan India di Jakarta apakah di itinerary saya bisa melampirkan tujuan Kashmir ? karena tujuan awal saya adalah ke Gulmarg,Pahalgam & Sonamarg
    saya sudah cantumkan email saya , jika berkenan mohon dibalas & terima kasih atas bantuan nya
    terima kasih 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s