Keping Hidup

Gadis tiga tahun itu menatap lekat ayahnya yang berada di seberang, di panggung para penampil. Seorang kakak penonton–yang baru saja dia kenal–erat merengkuh kaki-kaki mungilnya yang dibalut rok tutu pink, tetapi si gadis kecil tak peduli. Dia tekun menunggu.

Sejenak jeda yang canggung itu cair begitu sebaris melodi mengalun dari gitar si ayah.

“Let it go, let it go. Can’t hold it back anymore.”

Anio, gadis kecil itu, berseri.

 ***

Ingatan kita tentang hidup kerap disusun oleh rupa-rupa kepingan hal penting dan berarti. Waktu masih SMA, pensi, daftar film, atlet idola, juga grup band jadi salah satu jenis kepingan penyusunnya.

Masa itu, awal 2000-an, saya sempat mendengarkan debut Peterpan di radio, saat itu masih jadi band indie. Suara Ariel waktu membawakan lagu kojo mereka, Mimpi Yang Sempurna, masih sengau betul. Tarif manggung Peterpan di bazaar (istilah bekennya pensi di Bandung) hanya Rp 5 juta per sekali tampil.

Lain Bandung, lain Jakarta.

Awe dan Rayi–dua teman yang saya kenal 10 tahun setelah debut Peterpan–mengisi masa SMA-nya dengan mendengarkan Sajama Cut. Awe berkenalan dengan band ini waktu nongkrong berlama-lama di ak.sa.ra Kemang dan menemukan album mereka di tumpukan CD band-band indie. Sedangkan Rayi mengakrabi Sajama Cut sejak sering mendengar lagu mereka diputar di Radio Prambors.

Jalan kedua band indie ini akhirnya berbeda.

Tak lama setelah Peterpan tenar di Bandung, saya menebak Rayi dan Awe pun segera kenal mereka begitu band ini meloncat ke major label. Lain halnya dengan saya yang baru perdana tahu lagu-lagu Sajama Cut saat Malam Musik Pelatihan Pengajar Muda Angkatan VIII, Sabtu lalu.

Di malam itu, Marcel, Banu, Randy, Dion, Hans dan Asra sukses membuat audiens mengenang lagi usia belasannya. Season Finale, Twice (Rung A Ladder), dan Alibi meluncur mulus, membangun atmosfer aula di Gayatri Villages serasa pensi SMA.

Sebelum masuk ke lagu keempat, penonton seperti diingatkan bahwa ini bukan awal dekade 2000-an. Marcel minta izin sambil memberi isyarat ke arah si gadis kecil, “Saya sudah janji sama anak saya.” Lalu reffrain lagu tema film animasi Frozen pun menggema di ruangan, membuat Anio kegirangan.

Sejenak kemudian, barulah mereka memainkan Terdampar lalu Speak and Tongues.

Kemarin Marcel dkk memang tak hanya hadir sebagai band. Tiga orang personel yang sudah menikah turut mengajak pasangan dan anak mereka, salah satunya Anio.

Saat mereka sedang check sound, saya sempat dengar istri Marcel bertutur kalau Anio sengaja diajak agar pernah melihat ayahnya manggung di hadapan banyak orang. Sepertinya Sajama Cut ingin agar dalam momen penting dalam hidup mereka yaitu bermusik, orang-orang terpenting dalam hidup mereka pun ikut menyaksikannya.

Dalam gig malam itu, Sajama Cut tak hanya bernyanyi. Dengan dipandu Awe sebagai moderator, mereka juga berbagi dengan kami tentang hal-hal yang belum pernah saya baca di wawancara Sajama Cut yang pernah ada di media.

Dalam kesehariannya, masing-masing personel menafkahi hidup dari perkerjaan sungguhan, misalnya Banu yang jadi ilustrator, Randy yang punya bisnis wedding photography, atau Marcel yang bekerja jadi jurnalis dan punya usaha. Pendeknya, bermusik bagi mereka tak jadi jalan mencari materi. Sepertinya, bukan kemarin saja mereka mentas di depan audiens yang asing dengan lagu-lagu Sajama Cut.

Saat Awe bertanya soal pesan bagi Pengajar Muda yang akan bertugas tentang pendidikan musik yang seringkali termarginalisasi, personel Sajama Cut jadi bercerita banyak tentang makna keping hidup yang satu itu bagi mereka.

Asra menyebutkan bahwa main band baginya adalah coping yang menyenangkan dari rutinitas sehari-hari.

Dion bercerita bahwa musiklah yang menjaga dia dari pengaruh buruk semacam narkoba ketika SMA.

Banu berpesan pendek dan sederhana, agar bermusiklah yang benar. “Jangan kayak gini.”  

Sajama Cut mengakhiri gig dengan Less Afraid. Penonton berdiri dan berlonjak-lonjak, ikut menyanyikan lagu tema Janji Joni itu. Sudut mata Marcel agak basah, mungkin karena Awe sempat menyebutkan kalimat penghormatan untuk almarhum ayah Marcel, Thee Kian Wie saat menutup acara.

Mungkin jalan yang mereka pilih tak kemilau. Mungkin jalan ini tak banyak yang menepuki.

Tetapi inilah jalan yang membahagiakan. Menyelamatkan. Membuat tetap waras.

Dan keenam mereka mereka tetaplah ayah, pasangan, dan anak yang membanggakan. Selalu.

 

Outside, you can be anyone you want
Outside, you can be with anyone you’d want

Iklan

Satu pemikiran pada “Keping Hidup

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s