Memori

Sebaris pesan singkat masuk ke telepon saya.

Ketemu di Memori ya Shal.

Begitu isi pesan dari Yuri menyambut ajakan saya bertemu untuk membicarakan satu projek buku yang kami garap.

Yuri, si desainer produk antimainstream yang ogah pakai smartphone ini tak sedang mengajak saya bernostalgia dengan kenangan masa lalu. Memori yang dimaksud Yuri adalah “Memori” dengan M kapital, sebuah kavling pertokoan di Simpang Dago, Bandung. Di sana, ada salon, toko baju, warnet, agen perjalanan, tempat makan, dan deretan ATM dengan halaman parkir cukup untuk belasan mobil dan puluhan motor.

Barangkali yang membuat Memori istimewa adalah letaknya yang amat strategis. Nyaris di salah satu sudut perempatan paling ngetop di Bandung, setidaknya versi saya. Tepat di pojok perempatan ini ke arah utara ada McD Dago, di sebelahnya ada kantor PLN, lalu Memori. Karena itu, sudah sejak lama banyak orang sering menjadikan Memori sebagai tempat bertemu atau patokan arah di daerah Simpang Dago.

Entah gerai mana yang paling dahulu menyandang nama Memori. Mungkin salonnya, mungkin toko bajunya. Ketika Yuri mengajak jumpa di spot itu saya jadi menggali ingatan saya tentang Memori, sudah lama saya tak ke sana.

Saya mengingat-ingat, memori  paling awal saya dengan kompleks pertokoan itu adalah dengan wartelnya, di tahun-tahun awal kuliah, tahun 2004.

Wartel Memori terletak di lantai dua, di atas kantor agen perjalanan. Bayangkan ruangan memanjang dengan meja operator merangkap kasir di sisi yang lebih pendek. Ada pintu keluar masuk dekat meja ini, ramai saban terayun karena disangkuti bel kecil, pengingat agar sang penjaga jadi siaga. Deretan bilik bicara dari triplek bercat biru dengan jendela mika tersusun menghadap ke tengah.

Ada sekitar 12 bilik yang terbagi jadi lajur kanan dan kiri, mengapit ruang sirkulasi yang berujung di meja operator. Pesawat telepon sudah mengikuti tren terkini dengan tombol redial dan flash. Layar tagihan biaya berkedip merah hitam, menampakkan jumlah rupiah yang harus dibayarkan. Generasi keponakan saya yang digital native mestilah tak tahu bentuk wahana komunikasi yang nyaris punah ini

Sebagai mahasiswa ITB tahun pertama yang punya telepon seluler hanya untuk meneruskan pesan berantai ospek jurusan, saya termasuk pelanggan setia wartel ini. Sedikit banyak, biaya telepon interlokal alias SLJJ terasa lebih ringan bila lewat jaringan telepon kabel. Apalagi, waktu itu tarif bicara telepon seluler belum seciamik sekarang. Wartel ini jadi tujuan rutin saya melepas kangen dengan keluarga di kampung halaman setiap awal bulan.

Seiring dengan gencarnya tarif promosi operator seluler, perlahan pola komunikasi saya pun bergeser. Datang ke Memori kini hanya sesekali. Suatu hari sewaktu kuliah tingkat tiga, kebetulan saya harus menelepon ketika berada di sekitar Simpang Dago. Sialnya pulsa telepon seret. Saya langsung mengarahkan kompas ke Memori. Ternyata kini separuh bilik bicara sudah salin rupa jadi kubikel-kubikel komputer. Memori kini sudah merambah jasa layanan internet atau dengan kata lain “wartelnet”.

Malaise bisnis telepon kabel ternyata makin berlarut. Tak genap setahun, seluruh bilik bicara sudah punah dan digantikan warnet sepenuhnya. Pergeseran lini bisnis punya konsekuensi juga. Memori pun hadir dengan paket-paket menarik bagi pelanggan yang menyewa kubikel di jam-jam sepi seperti lewat tengah malam hingga pagi.

Pemilik warnet juga hadir dengan diversifikasi layanan bagi penikmat game online. Ada ruangan kedap berisik khusus bagi para gamers yang ingin beradu kecekatan jari dalam hingar-bingar musik dan efek suara. Kebutuhan ini berbeda dari sebagian pelanggan warnet yang butuh suasana tenang sekadar untuk berselancar ataupun video call dengan si dia di ujung sana.

Malam itu saya sengaja datang lebih awal ke Memori dari waktu yang disepakati dengan Yuri karena ingin mengunduh beberapa berkas penting di warnet.

Bunyi bel yang biasanya terdengar berdenting-denting begitu pintu terbuka, kini kalah kencang dengan ramai efek suara game yang memekakkan. Saya bicara dengan suara sedikit berteriak kepada operator bahwa saya ingin menyewa satu komputer untuk membuka e-mail. Perlu sekitar tiga kali berbalas jawab sampai saya paham bahwa sekarang warnet itu tak lagi menyediakan jasa unduh berkas seperti dibutuhkan. Semua lantaran seluruh komputer yang ada telah didedikasikan untuk game online yang menginduk ke satu server. Tak ada lagi layanan warnet konvensional.

Saya menuruni tangga pelan-pelan, mencoba mencerna liuk-liuk zaman yang melesat. Saya membatin, pemilik wartel, wartelnet, warnet, atau wargeol (warung game online :p) ini tanggap sekali merespon tren yang berkembang. Namun alih-alih protes sana sini bahwa usahanya tergerus modernitas, dia langsung beradaptasi dengan mengambil langkah berani, bahkan yang ekstrim sekalipun.

Sebaris pesan masuk lagi.

Di mana, Shal? Gw di Ramen House.

Gw dari warnet, Yur. Lagi turun. Di mana itu?

Di sebelah salon.

Ternyata kedai ramen yang baru dibuka itu luput dari pandangan saya ketika datang. Kedai itu penuh pengunjung, seperti kebanyakan warung ramen lokal yang sedang menjamur di Bandung belakangan ini. Sambil memesan makanan saya berpikir keras, tetap saja tak bisa ingat ada toko apa di sana sebelum warung mungil itu berdiri.

Pada akhirnya, Memori mengajari saya satu hal penting hari itu. Bahwa kita tak bisa menjeda zaman, memintanya menginjak pedal rem, walau sekadar satu kelebatan. Maka cara terbaik menghargai kenangan yaitu dengan terus bergerak ke depan. 🙂

Iklan

Satu pemikiran pada “Memori

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s