Sarapan Nasi Baru, Malaria, dan Ibu

Ibu mengangsurkan piring seng berisi nasi yang baru diciduk dari periuk ke tangan saya. Bapak sudah dapat gilirannya duluan. Terakhir baru ibu yang beroleh jatahnya. Kami bertiga bersila di atas serangge, sejenis balai-balai dari kayu. Aktivitas selanjutnya sudah menunggu, maka kami memulai sarapan tanpa banyak celoteh.

Ibu dan Bapak adalah cara saya memanggil pasangan suami istri tanpa anak ini. Mereka adalah orang tua angkat selama saya tinggal sebagai Pengajar Muda di Dusun SP3 Oi Marai di Kabupaten Bima. Sebenarnya, masyarakat di sini biasa menyapa ayah dan ibu dengan sebutan ama dan ina. Namun karena keduanya guru, mereka jadi menyandang sapaan yang lebih formal.

Sejurus kemudian, tinggal kerak nasi yang tersisa dalam periuk. Potongan ikan kering goreng pun sudah pindah ke dalam perut. Piring-piring lantas ditumpuk dan disisihkan ke tempat cuci untuk disiangi sepulang sekolah.

Ibu percaya betul faedah sarapan. Pantang bila kaki melangkah keluar rumah tanpa ada sempat mengisi perut dahulu. Sepiring nasi hangat yang baru diambil dari periuk akan mengusir semua penyakit, katanya.

Kami pun tak boleh makan nasi kemarin walau sudah dihangatkan. Pernah suatu pagi saya memasak nasi goreng dengan bahan nasi dingin sisa, lalu perintah Ibu cuma satu: buang saja, biarkan nasi lama jadi makanan ayam peliharaan kita, katanya.

Sikap hati-hati Ibu masuk akal, menimbang dusun transmigrasi tempat tinggal kami merupakan kawasan endemik malaria. Maklum, sampai tujuh tahun lalu daerah ini masih hutan lebat. Bagian selatan dusun ini berbatasan dengan wilayah cagar alam Gunung Tambora sedangkan di bagian utara terbentang Laut Flores.

Lansekap seperti ini membuat aneka jenis nyamuk rajin berbiak. Ada yang bentuknya biasa saja, seperti yang banyak saya jumpai di kota. Ada pula nyamuk agas dan yang paling aneh nyamuk laut. Nyamuk ini awalnya terlihat seperti titik hitam saja, terbang tanpa suara, tetapi cekatan menghisap darah. Dalam sekejap, titik yang bergerak-gerak ini akan menebal dan terbang naik-turun seperti keberatan badan.

Alam yang masih perawan dan segala makhluk hidup yang berdiam di atasnya membuat kami harus selalu waspada dengan kemungkinan penyakit yang muncul. Apalagi faktor minimnya fasilitas dan tenaga kesehatan di dusun ini membuat hampir setiap tahun ada warga yang meninggal karena penyakit menular. Masyarakat tak punya pilihan selain mencegah diri dari sakit dengan berbagai upayanya, seperti Ibu yang ketat menjaga standar sarapan.

Selama setahun tinggal di Bima, saya tak pernah sekali pun absen sarapan nasi baru yang masih hangat seperti anjurannya. Syukur alhamdulillah Ibu, Bapak, dan saya tak pernah kena malaria, pun wabah lainnya.

Rasanya belum ada literatur kesehatan manapun yang membuat garis relasi antara sarapan nasi baru dengan pencegahan malaria. Sepiring nasi putih tentu perlu ditambah menu makanan lain agar nutrisinya memadai untuk sarapan. Namun di tanah Tambora, tempat di mana lauk pauk adalah kemewahan, ada sosok Ibu yang telah menarikkan garis tegas itu untuk saya. Mau sehat? Sarapanlah dengan nasi baru.

Iklan

Satu pemikiran pada “Sarapan Nasi Baru, Malaria, dan Ibu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s