Beda

===repost dari catatan FB saya, dipublikasi 17 Juni 2009===

Tidak ada yang salah dengannya, anak paling tinggi di kelas saya sewaktu SD dulu. Kecuali, ia adalah satu-satunya anak yang pernah tinggal kelas di tahun-tahun sebelumnya. Guru saya terlanjur mencapnya bodoh, padahal ia hanya seorang anak dengan disleksia.

Sebut saja ia Budi. Budi tidak pernah menuliskan namanya dengan benar akibat disleksia yang dimilikinya tadi. Ia selalu menuliskannya dengan ejaan b-u-t-i. Guru saya pun akan memakinya sekali lagi, mengatainya bodoh.

Budi berusia dua-tiga tahun lebih tua dari kami, murid seisi kelas. Karenanya ia menjadi siswa paling tinggi, perawakannya paling besar, dan tentu saja lebih dulu mengalami pubertas dibanding siswa lainnya. Apa hasil? Budi adalah satu-satunya murid yang sudah berbau badan di kelas saat saya kelas 4 SD.

Bau badan ini berbuntut panjang. Tak peduli seberapa pun bersihnya Budi mandi sebelum berangkat sekolah, bau badannya selalu tercium menyengat. Apalagi di jam pelajaran selepas istirahat, Budi akan dijauhi. Tak seorangpun mau duduk di bangku yang sama dengannya. Budi lantas punya nama panggilan baru, Si Bau.

Budi Si Bau selalu menjadi bulan-bulanan siswa yang lain. Teman-teman saya senang mengoloknya, mengatai Budi sekejam mungkin hingga Budi meradang. Budi menjadi sangat minder. Beruntung Budi memiliki tubuh yang lebih besar dibanding siswa lain hingga bullying yang diterimanya tidak pernah bersifat fisik.

Budi diolok hanya karena ia berbeda, menjadi orang satu-satunya. Padahal, saat semua sudah duduk di bangku SMP –dan semua sudah punya bau badan masing-masing –tentu Budi tidak jadi bulan-bulanan lagi. Saat reuni SD beberapa waktu lalu Budi tidak kelihatan. Kami pun saling bertanya pada satu sama lain bagaimana kabar Budi sekarang. Tidak ada yang tahu.

Dia yang berbeda mungkin akan dicap aneh, ganjil, diluar kelaziman, gila oleh mereka yang mayoritas. Dia yang berbeda menghadapi resiko dicemooh, diolok, dijadikan bulan-bulanan, dilempari batu oleh mereka yang berjumlah banyak.

Dan dia yang berbeda juga adalah dia yang melawan dan membalik arus besar saat itu. Dia yang berbeda juga adalah dia yang membawa orang-orang pada pencerahan. Seperti Rasulullah, Galileo, Colombus, Raden Mas Minke, dan Pidi Baiq.

Menjadi beda memang tidak pernah mudah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s