Pak Erte oh Pak Erte

===repost dari catatan FB saya, dipublish 14 Agustus 2009===

Yeah, akhirnya Bekasi jadi ‘rame’ dan ‘seksi’ pasca penemuan bahan-bahan kimia yang diduga bahan baku bom di Jatiasih. Karena ulah komplotan teroris itu juga akhirnya saya merasakan atmosfer ‘live report’ yang selalu saya bayangkan sejak saya pertama kali ingin jadi jurnalis. Kira-kira pukul 3.30 pagi, saya dapat informasi tentang temuan bahan di Jatiasih itu. Meluncurlah saya ke TKP bersama dua rekan saya.

Suasana waktu itu genting. Perintah dari koordinator liputan sangat tegas,kami harus segera ke lokasi sebelum konferensi pers dari kepolisian dimulai. Hanya,informasi yang kami terima dari korlip teramat minim. Berbekal sepotong alamat ‘Puri Nusaphala, Jatiasih’ kami berangkat menembus pagi buta. Beruntung kami bisa menemukan lokasi dengan cepat, konpers belum dimulai. Semua informasi dari Kapolri dan Kadiv Humas Polri pun bisa kami catat lengkap dan dikirim ke newsroom.

Matahari mulai kelihatan, segerombolan wartawan TV baru datang. Mereka bergincu dan rapi. Jauh beda dengan kami, para wartawan cetak yang lecek dan tak sempat mandi. Sayangnya, mereka melewatkan dua peristiwa penting pagi itu: konpers Kapolri dan penjinakan jebakan pintu oleh Gegana dan Densus. Barangkali mereka lebih suka mengorbankan konpers demi memasang gincu. Entahlah.

Eniwei, saatnya saya berburu data sekunder. Saya pun kasak kusuk mencari penghuni rumah yang bertetangga dengan rumah nomor D 12 yang dikontrak anggota kelompok teroris. Seorang bapak berjaket hitam yang menonton aksi penjinakan jebakan pintu ternyata bermukim di rumah nomor D 8. Katanya, gerak gerik si pengontrak tidak mencurigakan. “Hanya, jarang bergaul,” kata bapak itu, Muslih namanya.

Saya pun lantas mencari rumah pemimpin RT setempat. Saya sempat celingak celinguk sebentar sebelum ditegur Pak Erte yang sedang berdiri di depan rumahnya, melayani wawancara dari seorang pewarta online. “Wah, sekalian wawancara kalo gitu ya pak?” tanya saya. Ia mengangguk.

Pak Erte bilang, para pengontrak itu mulai tinggal di Puri Nusaphala sejak tiga minggu sebelum kejadian penemuan bahan kimia itu. “Kira-kira sehari atau dua hari sebelum kasus bom di Kuningan,” tuturnya sambil mengingat-ingat. “Ada yang mencurigakan dari mereka, pak?” tanya saya. “Ah, biasa saja. Saya tidak curiga sama sekali dengan mereka,” jawabnya. Pak Erte lantas dipanggil petugas, wawancara pun berakhir.

Wartawan TV masih sibuk ‘kloning’ berita sana-sini. Mereka berusaha melengkapi data hasil konpers Kapolri. Tampaknya belum ada yang terpikir mewawancarai Pak Erte atau tetangga sekitar. Saya merasa sedikit unggul. Korlip saya menelepon, semua informasi penting saya sampaikan. “Rumah itu dikontrak tiga minggu sebelum penggerebekan, Pak Erte bilang tidak ada yang mencurigakan dari si pengontrak,” saya menekankan poin-poin penting hasil wawancara tadi.

Sekitar pukul 8, saya dan kedua rekan sempat rehat sejenak. Di TKP tidak ada aktivitas berarti kecuali tim Puslabfor yang hilir mudik mengeluarkan barang bukti ke luar rumah. Kami beristirahat di teras salah satu rumah. Rumah Pak Erte mulai ramai. Tampaknya ia menggelar konpers untuk semua wartawan ketimbang melayani wawancara ketengan agar lebih efisien waktu.

Konpers selesai, seorang pewarta TV keluar dari rumah Pak Erte dan bergabung di keteduhan teras yang sama dengan kami. Ia lantas bercakap-cakap dengan HP-nya. Dari gelagatnya, ia sedang melaporkan langsung hasil konpers tadi dengan rekannya di studio. Saya menyimak kata per kata laporannya dengan seksama.

Haha. Entah apa yang ada di pikiran Pak Erte. Dari wawancaranya dengan saya dia bilang pengontrak itu datang tiga minggu lalu. Saat konpers dia bilang satu bulan. Kepada saya dia bilang tidak ada yang mencurigakan dari para pengontrak. Di konpers dia bilang gerak-gerik para pengontrak itu memang mencurigakan.

Sepasukan sumpah serapah nyaris meluncur dari mulut saya. Untung saja tertahan. Saat piket malam kemarin, saya lihat Pak Erte diundang pada acara bincang-bincang terorisme di salah satu TV swasta. Tak saya perhatikan acaranya. Cukup sekali itu saya diberi dua muka.

Kata Bill Kovach, kewajiban pertama jurnalisme adalah pada kebenaran. Hanya, Gregory House bilang, semua orang berdusta.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s