Mimpi Tak Tahu Diri

Bukannya skeptis, tapi tindakan PSSI mengajukan proposal ke FIFA agar Indonesia bisa menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022 (Koran Tempo, 5 Februari 2009) lebih cocok disebut tidak tahu diri. Tidak usahlah berbicara soal kesiapan infrastruktur alias venue penyelenggaraan kegiatan, tengok dulu kiprah tim nasional kita di Piala Dunia. Jangankan lolos kualifikasi ke putaran final Piala Dunia nan gemerlap, gegap dan gempita itu; di tingkat ASEAN saja sudah bertahun-tahun Indonesia kesulitan untuk menghadapi Thailand yang selalu jadi pemuncak. Padahal, timnas Thailand belum pernah lolos ke putaran final Piala Dunia.

Menjadi tuan rumah berarti otomatis mendapat satu tiket ke putaran final. Sekali merengkuh dayung, dua pulau terlampaui. Satu kesempatan, dua sejarah tercipta: pertama kali tampil di putaran final sekaligus pertama kalinya menjadi tuan rumah Piala Dunia. Timnas Indonesia tidak usah bersusah payah berpeluh darah “membunuhi musuh” yang selama ini selalu mengganjal di kualifikasi. Tinggal menunggu Spanyol, Brazil, Kamerun, Meksiko, atau Irak datang di Gelora Bung Karno.Terlalu cari gampang.

Rangking FIFA timnas Indonesia selalu lebih besar dari angka 50, malah selama lima tahun terakhir anteng berada di kisaran peringkat 90-an sampai di luar 100 besar. Selama lima tahun terakhir pula tidak ada prestasi membanggan dari timnas senior kita. Belum ada juga pemain Indonesia yang mampu bermain di liga kelas dunia. Kurniawan cuma sampai primaveranya Sampdoria, di FC Luzern Kurniawan juga tak banyak bicara. Karir Eropa Bambang Pamungkas hanya mentok di klub amatir di Negeri Belanda, EHC Norad. Beberapa pemain terbaik dari negeri ini malah akhirnya bermain di liga jiran yang lebih rendah level kompetisinya, demi mengejar setoran sebelum pensiun tiba. Prestasi juara liga nasional di kompetisi antarklub regional macam Piala Champions Asia atau Piala Winner Asia juga tak pernah sampai di tahta puncak.

Dari segi venue, hanya Gelora Bung Karno yang cukup layak disejajarkan dengan stadion kelas dunia lainnya dari segi fasilitas teknis walau sebenarnya desain GBK sudah sangat ketinggalan jaman karena didesain untuk Asian Games 1962. Era 60-an sih GBK sejajar sama Maracana. Sekarang? Totally out of date. Tanggung jawab pembinaan sepakbola (dan semua cabang olahraga sebenarnya) pun carut marut, dilempar-lempar antara pemerintah daerah-PSSI-pemerintah pusat dalam hal ini Kemenpora. Ribet! Hal ini menandakan kalau pemerintah belum serius mengelola hal yang satu ini.

Ya, PSSI bisa bilang kalau masih banyak waktu untuk bersiap sampai waktunya tiba. Tapi, semuanya baru mungkin kalau pembinaan sepakbola Indonesia sudah berada di jalur yang benar. Juga kalau PSSI sudah memiliki pembinaan kelompok umur yang terprogram, kompetisi yang sehat, dan manajemen organisasi yang baik. Juga kalau pemerintah Indonesia sudah melihat olahraga sebagai bagian tak terpisahkan dari pembentukan karakter bangsa. Juga kalau saja masyarakat Indonesia sudah cukup beradab dan siap menjadi tuan rumah perhelatan tingkat dunia. Saya membuka mata, lantas melihat realita. Entah harus skeptis atau justru malu.

Iklan

3 pemikiran pada “Mimpi Tak Tahu Diri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s