Mau Panda atau Janda, Apapun Lah!

Bukan, ini bukan bicara tentang panda yang itu. Pun bukan soal janda biasa. Ini soal Panda, sebuah akronim yang biasa disematkan kepada pasangan bersuku Padang-Sunda, dan gelar Janda yang kerap dinobatkan pada pasangan bersuku Jawa-Sunda.

Apa pasal? Seorang sahabat saya, tak usahlah saya sebut namanya, mendadak sering tanya sana-sini perihal persukuan pada saya dan beberapa rekan yang lain yang punya darah Minang. Sahabat saya tadi, berasal dari suku Sunda, agak cemas soal ‘prospeknya’ di masa depan. Prospek perjodohan maksudnya. Namanya juga lagi jaman-jamannya puber. Hehe…

Sahabat saya ini ingin punya cukup bekal jika ternyata di masa depan jalanNya mengantar ia berjodoh dengan pria Minang. Beberapa pemeo negatif yang berkembang di masyarakat memang tidak menguntungkan baginya. Misalnya, dari beberapa cerita yang ia dengar ia mendapat kesimpulan bahwa jarang ada pasangan Padang dan Sunda yang sukses berumah tangga.

Sahabat saya ini tidak sendirian, ada pemeo lain yang juga menghindarkan terjadinya pernikahan antar pasangan yang berasal dari suku Jawa dan Sunda. Tidak akan cocok. Masih ada dendam tersisa dari Perang Bubat yang melibatkan Hayam Wuruk dan Dyah Pitaloka, katanya. Halah…

Akal sehat saya berontak. Mestinya setelah Islam datang sebagai jalan yang membawa manusia dari kegelapan menuju dunia yang terang benderang, perkara suku tak semestinya jadi hambatan pernikahan. Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa semestinya urutan pertimbangan dalam memilih pasangan adalah empat faktor: agama, ilmu, keturunan, dan kekayaan. Suku dan keturunan barulah datang jika soal agama dan ilmu sudah beres ditanggung. Apalagi, paranoia soal Panda, Janda, atau apapun itu berasal dari mitos yang seringkali tidak berdasar. Mitos tak berdasar tak usahlah dijadikan dasar pertimbangan.

Seorang anak tidak pernah meminta untuk dilahirkan, lalu mengapa harus membebaninya dengan segala atribut kesukuan?

Iklan

5 pemikiran pada “Mau Panda atau Janda, Apapun Lah!

  1. SETUJU!!! harusnya dalam memilih jodoh itu yang dilihat adalah apa dan bagaimana agamanya…
    kan kasihan nasib kita dan anak cucu kita jadi korban konflik masa lalu yang gak ada tau menahu akar permasalahannya dan gak terlibat langsung pula! huff!!

    Apalagi nasib anak rantau yang kebetulan punya aliran darah suku-suku yang notabene diblacklist..udah kagak tau adat sukunya seperti apa karena dia dibesarkan di rantau orang, tiba-tiba kena blacklist pula…kasian sekali….(si kyky lagi curhat mode on)

  2. gw anak Susi…

    sunda bekasi dan bapak gua anak jagal,, jawa tegal nyokap gw anak Basi, banten bekasi.

    sebenernya gak ada masalah kawin beda suku,, tapi mungkin ada yang namanya karakter rata rata suatu suku,, dan beberapa ada yang bertabrakan,,

    kayak musuh alami lah,, kayak siapa gitu…

  3. @kynoy yusuf
    santailah,,ky.. jaman sekarang mah udah banyak yg moderat.. makanya kalo entar punya anak jangan lupa diajarin sama nilai2 kebudayaan lokal juga biar dia bisa bijak menghadapi idup.. yang ada itu kearifan lokal,, bukan kearifan indonesiawi.. tapi mentalnya tetep harus jadi indonesianis sejati yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa..

    @zaoldyckngeblog
    to be clear,, i’m not your ally..
    tapi gw jg punya masalah ama orang itu..
    hahah..

  4. Perang Bubat tuh Gajah Mada vs Dyah Pitaloka tuh, bukan Hayam Wuruk vs Dyah Pitaloka…

    tapi jadi menarik ya, rupanya perang yang sudah berlalu ratusan tahun itu masih membekas hingga sekarang.. buktinya, pernah lihatkah ada jalan Gajah Mada atau Hayam Wuruk di Bandung? Yang paling saya sesali, kenapa harus ada dendam? jadinya, saya kan gabisa makan Bakmi GM di Bandung ^_^

  5. CMIIW : perang bubat ko dyah pitaloka ya? bukannya dewi citraresmi y? Dyah pitaloka itu nama gadis ibu dari hayam wuruk, benar perang bubat menurut banyak ahli sejarah, akibat gajah mada ke kerajaan sunda galuh. Itu makanya kenapa di Bandung tidak ada jalan gajah mada,,(coba cari klo ada, kasi tahu saya..:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s