Merayakan Lebaran

Selamat Hari Raya, Selamat Idul Fitri, Selamat Lebaran. Semua dibungkus dengan satu ucapan yang sama, Mohon Maaf Lahir dan Batin. Ketupat bergantungan di mana-mana, juga beduk, juga dekorasi berbentuk masjid.

Entahlah, sejak awal Ramadhan kali ini saya sebal dengan semua montase-montase itu. Semua mendadak jadi saleh dan salehah, ditandai dengan ucapan salam yang diArab-arabkan dan baju kepanjangan yang terkadang ditambahi selendang. Tapi dangkal, sungguh banal!

Sinetron Ramadhan menjamur di setiap stasiun televisi. Ramadhan apa? Lagi-lagi hanya sinetron biasa yang karakter-karakternya dipakaikan jilbab dan peci. Kontennya tetap saja berhaluan India khas klan Punjabi. Tetap saja penontonnya setia memirsa sang sinetron, sambil menunggu waktu berbuka puasa katanya. Acara pengisi waktu sahur pun tak kalah norak, justru marak tayangan berbau kekerasan di pagi-pagi bulan penuh berkah.

Doa-doa yang terpanjat mendengung memenuhi masjid, surau dan langgar, terdengar lebih dengung dari biasanya. Lembaran mushaf dibolak-balik dengan cepat, masing-masing berusaha berpacu merapalkan ayat-ayat suciNya. Jemaah-jemaah yang bersaf di belakang imam berlomba mencari baris terdepan, mencoba menjemput pahala Ramadhan.

Di sisi lain Kota Bandung, supir-supir angkot tetap mengebulkan asap rokok sembari menarik helaan pemberi nafkah bagi keluarganya. Warung nasi pinggir jalan tetap berjualan, berusaha mencegat satu dua orang yang ternyata tidak berpuasa. Polisi lalu lintas yang tengah bertugas di Simpang Lima menegak air mineral di tengah hari yang teriknya luar biasa.

Hingga akhirnya sepuluh hari terakhir tiba, justru sebagian besar dari kita memasukkan diri dalam riuhnya pusaran arus mudik. Menjebakkan diri berjam-jam di dalam kendaraan, berharap bisa segera bertemu dengan keluarga tersayang. Sebelum pulang, tak lupa berbelanja baju untuk dipakai di Hari Raya. Diskon dan rabat sudah siap menyambut para pemburu pakaian yang akan bertawaf di pusat-pusat perbelanjaan.

Yah, itulah sebagian potret Ramadhan hingga menjelang Lebaran di negeri tercinta ini. Dalam hemat saya, Lebaran adalah sebuah ritus. Ritus transisi dari Ramadhan ke bulan-bulan selanjutnya. Masing-masing pribadi berhak punya apresiasi sendiri terhadap Ramadhan yang berujung pada satu momen peralihan, Lebaran. Karena shaum diwajibkan atas orang-orang beriman agar mereka bertakwa, seyogyanya yang nikmat dalam merayakan Lebaran adalah mereka yang menjalani lelaku Ramadhan yang sudah digariskan di awal. Semoga kita termasuk dalam umat yang diseru olehNya.

Selamat Idul Fitri 1429 H

Taqabbalallahu Minna wa Minkum, Shiyamana wa Shiyamakum

Iklan

7 pemikiran pada “Merayakan Lebaran

  1. Ramadhan harusnya dijadikan moment untuk memulai ketaatan total dengan menjalankan syariat2-Nya.
    Hanya dengan itu maka ramadhan kali ini akan terasa lebih bermakna.

    Mohon maaf lahir & batin.
    Mari sucikan hati dihari yg fitri dg untaian kata MAAF.

    Kembali ke fitrah, kembali syariah.

  2. 28 september,,, h-3 lebaran masih posting,,,

    pasti dari Billiton sono y? hebat hebat…

    mau komen,,

    sinetron ala klan punjabi yang mendadak rada islami,, walaupun cuman tambah kerudung,, itu pun masih keliatan rmbut, atau pilem berkerudung lain yang di satu waktu tokohnya membuka kerudungnya.

    polisi yang minum di simpang lima waktu ramadhan

    supir angkot penghisap residu tembakau di siang hari bulan suci

    ketergangguannya dirimu menandakan kau sudah menyelesaikan setengah dari masalah, yaitu mengetahui ada masalah.

    sisanya adalah mencari solusi untuk mengatasi masalah,,

    karena sudah bukan saatnya untuk mengatakan semuanya kembali ke diri masing masing…

  3. Saya sendiri melihat kalau idul fitri sudah kehilangan sedikit maknanya. Dari sebuah perayaan kemenangan menjadi rutinitas tradisi. Dari acara merayakan fitrah manusia menjadi tradisi mudik dan perilaku konsumtif.

    Ironisnya hal ini terjadi di saat ada krisis ekonomi, BBM, dan turunnya nilai Rupiah. Getir terasa di hati. Memang kita masih perlu banyak berintrospeksi.

    Semoga kita semua mendapat hidayah dan petunjukNya…

    Mohon maaf apabila salah dalam kata dan perbuatan… Saya bukan manusia yang sempurna, karena itu mari kita jadikan bulan syawal ini momen untuk memperbaiki diri masing-masing.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s