Cendekiawan Muslim Favoritku

Waktu sekolah dasar dulu, sesi pelajaran agama yang saya sukai adalah Sejarah Kebudayaan Islam. Soalnya, di mata pelajaran ini saya bisa tahu betapa kerennya sepak terjang cendekiawan muslim justru saat dunia barat sedang bergulat dengan pemikiran kolot mereka di masa kegelapan abad pertengahan.  Dari deretan nama cendekiawan muslim itu, ada beberapa nama yang jadi favorit saya. Inilah mereka…

Ibnu Sina, orang ini jadi cendekiawan favorit saya karena namanya sama dengan nama SD saya. Hahaha. Ibnu Sina ini dikenal sebagai tokohnya dunia kedokteran di awal milenium kedua. Bukunya yang berjudul Qanun fi at-Tibb atau Aturan Kedokteran yang kemudian diterjemahkan menjadi The Canon of Medicine dipergunakan secara luas sebagai referensi di dunia kedokteran barat hingga masa Rennaisans. Selain ahli kedokteran, Ibnu Sina juga seorang filsuf tersohor. Postulatnya yang terkenal adalah mengenai asal-usul penciptaan alam semesta yang berasal dari pemancaran (emanasi). Soal postulatnya ini, Ibnu Sina alias Avicenna mendapat tentangan keras dari ulama besar sejaman yaitu Al-Ghazali yang membantah postulat tersebut dalam sebuah tulisan berjudul Tahafuf al-Falasifah atau Kekacauan Para Filsuf.

Al-Farabi. Lahir dan besar di Irak, Al-Farabi adalah seorang cendekiawan yang unik karena memiliki keahlian utama di bidang musik. Karyanya yang terkenal di bidang musik adalah Kitab al-Musiqi al-Kabir yang memuat risalat di bidang musik. Selain menulis buku, Al-Farabi juga memainkan dan menemukan berbagai alat musik Arab klasik. Selain menekuni dunia musik, Al-Farabi juga menekuni banyak bidang lain diantaranya logika dan filsafat.

Al-Kindi. Bisa dibilang, Al-Kindi adalah pionir di banyak bidang. Cendekiawan yang satu ini meletakkan pondasi mendasar pada dunia matematika dengan memperkenalkan sistem angka nol pada sistem angka Arab yang akhirnya meluas ke seluruh dunia. Bayangkan jika Al-Kindi tidak melakukan hal ini, betapa repotnya kita ketika harus menuliskan angka 1986 ke dalam simbol angka romawi. Al-Kindi juga yang mementahkan mitos umum di dunia para alkemis pada waktu itu yaitu mengubah logam biasa menjadi logam mulia seperti emas dan perak. Semasa hidupnya, Al-Kindi menulis sedikitnya 260 buku.

Ketiga tokoh di atas adalah segelintir dari banyak cendekiawan besar muslim pada masa itu. Kesamaan dari mereka bertiga adalah penguasaan tingkat tinggi pada berbagai bidang keahlian. Sesuatu yang sulit ditemukan pada cendekiawan saat ini. Sekarang saatnya bertanya pada diri sendiri, apa karya besarku?

Sumber tulisan dikutip dari materi pelajaran SKI untuk sekolah dasar, Ensiklopedia Islam dan (tentunya) wikipedia.org.

Iklan

6 pemikiran pada “Cendekiawan Muslim Favoritku

  1. Al-Khawarizm gk masuk? yang namanya di lidah orang bule berubah jadi Algoritma, peletak dasar algoritma dan ‘penemu’ angka 0, dan kalau nggak karena penemuannya, dunia komputer belum tentu secanggih ini 😀

  2. Al-Khawarizm gk masuk? yang namanya di lidah orang bule berubah jadi Algoritma, peletak dasar algoritma dan ‘penemu’ angka 0, dan kalau nggak karena penemuannya, dunia komputer belum tentu secanggih ini 😀

  3. @muhammmad fuadunnas dan donny reza yang ternyata orang yang sama…

    iya,, ini kan versi saya doang. lagian saya gak bilang cuma mereka bertiga cendekiawan muslim yang hebat,, yang lainnya juga keren2… al-khawarizm,, boleh juga…^^

    @to dan santo_keren yang ternyata lagi2 orang yang sama…

    paradoks apaan sih??

  4. maap kemaren tuh,,kirain yang satunya failed eh tau2nya masuk smua,,jadi nyepam deh komennya,,hehee

    btw,,paradoks tuh masih sodara sama karedoks..tuh makanan di sunda pasti ada,,mau yang pedes ato sedang ato malah gak pake cabe juga bisa,,,ya suww bungkuslah satu,,,hahaaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s