Hei-hei Siapa Dia?

Entah mengapa, hasrat menulis saya mengalir demikian deras belakangan ini. Walhasil, tulisan demi tulisan baru bermunculan di layar Rumah Cahaya dalam interval waktu yang saling berdekatan. Bisa jadi gara-gara belakangan saya teringat pada lebih banyak hal, berinteraksi dengan lebih banyak orang dan mengalami lebih banyak peristiwa dari biasanya.

Ngomong-ngomong soal mengalami lebih banyak peristiwa, di sepuluh hari terakhir ini saya (akhirnya) mengalami yang disebut Sidang Istimewa Kongres (SIK) KM-ITB. Sidang ini bukan sembarang sidang. Sidang Istimewa Kongres layaknya sidang istimewa di majelis rakyat di Jakarta sana, diadakan untuk mengamandemen aturan dasar organisasi. SIK 2008 mengusung beberapa agenda, yang teranyar adalah soal anggota MWA perwakilan mahasiswa ITB.

Sejak tahun 2000, ITB berubah bentuk dari perguruan tinggi negeri menjadi Badan Hukum Milik Negara. Alasan pemerintah dibalik keputusan ini ada banyak, mulai dari memberikan kesempatan bagi PTN untuk berkembang, otorisasi lingkungan perguruan tinggi dan masih banyak alasan lainnya. Lewat  PP no 155 tahun 2000, resmilah ITB didapuk menjadi BHMN bersama tiga PTN lainnya yaitu UI, IPB dan UGM.

BHMN didirikan di atas empat pilar; Majelis Wali Amanat (MWA), Senat Akademik (SA), Pimpinan Institut (Rektorat) dan Dewan Audit (DA). Konsep university governance ini sekilas memang mirip dengan konsep pemerintahan di negara kita. Silakan analogikan peran MWA dengan MPR, SA dengan DPR, Rektorat dengan Presiden dan menteri2nya, sementara DA dengan MA. MWA sebagai organ tertinggi institut diisi oleh para stake holder yang memliki kontribusi pada ITB, diantaranya adalah para anggota SA, tokoh masyarakat, rektor, menteri pendidikan dan mahasiswa.

Kursi anggota MWA tentu sesuatu yang prestisius. Pihak ITB sendiri menyerahkan kursi anggota MWA perwakilan mahasiswa kepada KM ITB sebagai organisasi kemahasiswaan terpusat bagi mahasiswa S1 ITB dan menyerahkan sepenuhnya mekanisme pemilihan anggota MWA perwakilan mahasiswa pada KM ITB. Pada kurun waktu 2001-2004, KM ITB mengirimkan anggota Kongres KM ITB yang terpilih melalui pemilu internal sebagai anggota MWA perwakilan mahasiswa. Karena kinerja anggota MWA perwakilan mahasiswa dengan mekanisme yang demikian dinilai tidak optimal, terhitung sejak tahun 2004 KM ITB memutuskan untuk mengirim ketua kabinet alias Presiden KM ITB sebagai anggota MWA perwakilan mahasiswa.

Empat periode pengiriman sudah bergulir. Kongres KM ITB 2007/2008 memutuskan untuk mengevaluasi kinerja anggota MWA perwakilan mahasiswa selama empat periode terakhir dan menetapkan siapa yang paling layak menjabat anggota MWA perwakilan mahasiswa. Roadshow dijalankan, forum massa diadakan, parameter pun disamakan. Tak disangka-sangka, ekspektasi massa sangat besar pada fungsi dan peran anggota MWA perwakilan mahasiswa. Anggota MWA perwakilan mahasiswa dianggap sebagai satu-satunya orang yang memiliki akses pada petinggi institut ini. Para petinggi institut memang berlaku melangit, terlihat namun tak terjangkau. Karenanya, anggota MWA perwakilan mahasiswa digadang-gadang sebagai jembatan komunikasi menuju perubahan.

Lembaga yang satu ingin presiden tetap diutus menjadi anggota MWA perwakilan mahasiswa. Beberapa lembaga yang lain justru ingin ada pemisahan antara lembaga kepresidenan dan anggota MWA perwakilan mahasiswa. Lumrah, toh semuanya bagian dari  proses demokrasi. Parameter menjadi kunci dalam mengurai benang masalah. Fokus, kelengkapan informasi dan daya tawar di kalangan mahasiswa adalah tiga hal penting yang akan mengeliminasi kemungkinan pilihan yang paling nihil peluangnya.

Benang masalah penjabat anggota MWA perwakilan mahasiswa akhirnya terurai. Mahasiswa independen dirasa sebagai solusi yang paling baik untuk kondisi yang saat ini. Benang kusut masalah selanjutnya sudah menghadang. Posisi dan mekanisme pemilihan menjadi aral selanjutnya yang harus diselesaikan. Kali ini, masalahnya lebih rumit dan dilematis. Well, akhirnya benang yang terakhir pun terurai juga. Posisi mahasiswa independen penjabat anggota MWA perwakilan mahasiswa adalah sejajar dengan presiden-kabinet dan berada dalam kontrol Kongres KM ITB.

Setelah Kongres KM ITB 2007/2008 bertempur mati-matian di SIK 2008, kini giliran Panitia Pemilu KM ITB 2008 pasang aksi. Konsepsi, AD dan ART terbaru sudah disahkan. Aturan Pemilu KM ITB 2008 juga sudah diluncurkan. Pewacanaan soal si produk baru (anggota MWA perwakilan mahasiswa) ke massa kampus ini bakal jadi tugas besar Kongres dan Panpel.

Dalam hitungan 7 minggu, mahasiswa ITB akan segera memiliki pengganti Zulkaida Akbar sebagai Ketua Kabinet KM ITB dan anggota MWA perwakilan mahasiswa. Saatnya mahasiswa ITB bersiap memilih pemimpin pilihannya. Kira-kira siapa ya?

Bandung, 4 jam sebelum forum massa…

Iklan

4 pemikiran pada “Hei-hei Siapa Dia?

  1. Wah… semangat semangat! Menurut saya, “jabatan” (if we could really say it “jabatan”) paling berat di kampus adalah menjadi seorang senator. Hehe. Anyway, sebenarnya menurut saya ga perlu SIK setiap tahun… apalagi karena SIK produk akhirnya AD/ART versi amandemen. Kan ga enak juga AD/ART diamandemen tiap tahun. Saran saya, mending bikin hirarki aturan dibawah AD/ART yang lebih fleksibel sehingga bisa diubah tanpa mekanisme SIK. Negara saja punya hirarki aturan toh? 😀

  2. kirain isinya apaan…
    ternyata bahas SIK, shal, pos-lah hasil SIK mbak fitra minta da yang pos ke agendaganesha tuh…
    kan dikau kurasa banyak menyimpan dokumentasi n notulensinya? (mungkin?)

  3. hooo sepakat kata deri…
    gmn shall,,, lg tdk ada tenaga menulis nih hahaha…
    btw, besok dah mulai pendaftarn.,.. gmn nih peluang kta mematahkan asumsi para adik2 wuakakaka…

  4. @qbl
    sebenernya gak pengen juga SIK 3 taun berturut-turut, must be ada yg salah kalo tiga taun ubah-ubah aturan melulu. cuma, apa boleh buat. urgen juga soalnya…
    soal hirarki aturan itu, saya sepakat banget. mestinya emang ada, biar ad/art kita gak seprofan sekarang…

    @deri
    kk deri, udah ada yg posting kan? saya nulis tentang prosesnya aja… hehe

    @fitrasani
    gimana hasil comlang-mencomblangi tadi malem, fit?? berhasil mempertemukan berapa pasangan?? wakakaka…

    iya nih,, adik2 kita terlalu asumtif dan pesimis…padahal kakak2nya selalu optimis ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s