Saya (Pernah Jadi) Penggemar AS Roma

Dunia gemar-menggemari memang sungguh absurd. Demi yang digemarinya, seorang penggemar rela melakukan apapun bahkan hingga hal yang tidak masuk di akal macam ikut bunuh diri saat sang idola meninggalkan dunia. Remaja adalah segmen umur yang rentan terhadap sindrom gemar-menggemari ini. Usia remaja adalah usia saat seseorang mulai mencari identitas dan mengalami ambiguitas status sosial (Altman and Low: 1987). Mereka cenderung mengambil citra tertentu yang dianggap ideal untuk dicontoh, dikagumi dan dipuja. Remaja akan menduplikasi citra ideal alias idola tadi sebagai bagian dari pencarian identitas dan mengaplikasikannya pada diri mereka sendiri. Karenanya, jangan heran saat melihat remaja berdandan ala artis tertentu atau rela menghabiskan uang jajannya untuk membeli atribut tim yang dikaguminya.

Waktu SD sampai SMA saya juga sempat punya idola. Bukan tokoh agama, bukan artis, bukan tokoh nasional tetapi klub sepakbola. Saat teman-teman saya yang wanita sedang gemar-gemarnya mengidolakan boyband saya malah datang ke sekolah sambil membawa tabloid BOLA terbaru. Saya memang suka melakukan sesuatu yang mahiwal alias ingin beda sendiri. Buat anak SMP yang uang jajannya masih recehan, membeli BOLA berarti tidak jajan selama 2 hari. Karena BOLA terbit dua kali dalam seminggu, walhasil saya hanya bisa jajan di hari Rabu dan Sabtu. Haha…

Sebenernya, di tiap liga Eropa yang ngetop saya punya tim jagoan sendiri. Di Premiership, Manchester United. Di Erdevisie, PSV Eindhoven. Di Bundesliga, Bayer Leverkusen. Di Liga Spanyol, Alaves. Di Liga Prancis, PSG. Di Lega Calcio, AS Roma tentunya. Pilihan tim-tim idola tadi bukan tanpa alasan, saya yang suka mahiwal tadi memang tidak suka pada tim yang melulu menang. Akhirnya pilihan-pilihan saya jatuh pada tim yang underdog tapi berpotensi jadi kuda hitam mengalahkan tim yang lebih mapan.

Lega Calcio adalah liga favorit saya, persaingannya paling menarik dibanding liga Eropa lainnya. Karenanya, AS Roma menjadi tim kesayangan saya. Saya mulai mengidolakan AS Roma sejak musim terakhir AS Roma dilatih Zdenek Zeman. Saat itu, Roma adalah pelanggan urutan 5-6 di akhir kompetisi Lega Calcio dan hanya menjadi peserta rutin Piala UEFA perwakilan Italia. Saat musim berikutnya, Fabio Capello masuk dan mengubah pola permainan 4-3-3 warisan Zeman yang defensif menjadi 3-4-3 yang membawa Roma menjadi Il Campionati Lega Calcio taun 2000(?..lupa).

Selain Francesco Totti sang pangeran, sisa skuad Il Lupo alias Si Serigala nyaris tidak ada yang super talented. Kalaupun terpilih masuk skuad Azzuri pun cuma jadi penghangat bangku cadangan. Roma bukan klub kebanyakan duit macam Real Madrid yang punya hobi memecahkan rekor transfer pemain. Roma juga bukan klub dengan pembibitan sebaik MU yang menghasilkan David Beckham dan Neville bersaudara, bisa dibilang hanya Totti yang merupakan produk yang sukses dari akademi AS Roma. Hanya saja, Roma punya pemandu bakat-pemandu bakat yang jeli melihat pemain-pemain berpotensi yang bertebaran di klub-klub yang kurang terkenal.

Capello berhasil menempatkan right man in the right place. Tiga punggawa di barisan depan diisi oleh trio Marco Delvecchio-Totti-Vincenzo Montella. Di tengah ada barisan gelandang yang tidak kalah solidnya (cuma inget Candela, yg lain nama-namanya pada lupa, euy). Di bagian belakang ada Cafu sebagai bek kiri yang giat membantu serangan (nama-nama bek lainnya saya juga lupa). Roma menamatkan kompetisi sebagai juara dan melaju ke Liga Champion. AS Roma adalah bukti bahwa untuk jadi pemenang dibutuhkan super team, bukan superman.

Di musim-musim selanjutnya, Roma tidak pernah mengulangi kegemilangannya itu walau Capello lagi-lagi berhasil menemukan bibit-bibit unggul dan melejitkan mereka. Sebut saja Danielle de Rossi, Emerson dan Antonio Cassano. Beberapa tahun setelah stagnansi dan mal prestasi, Fabio Capello cabut ke Juventus dan sekarang melatih tim nasional Inggris.

Terhitung sejak tahun 2003 saya vakum dari pengamatan dunia persepakbolaan internasional. Jika ada siaran langsung pun sekedar menengok sambil sedikit kangen. Di koran yang saya baca beberapa minggu lalu, AS Roma lolos ke babak perempat final Liga Champions. Sekarang Roma dilatih Luciano Spaletti yang pernah melatih Lecce dan Udinese. Totti masih ada, demikian pula dengan de Rossi. Penyedia apparel pun sudah beralih ke Diadora dari Kappa. AS Roma sudah berubah. Demikian pula dengan saya.

Iklan

12 pemikiran pada “Saya (Pernah Jadi) Penggemar AS Roma

  1. tuh kan emang bener Shally tuh emang aneh,,, (piss euy),,
    tapi selamat menelan pil pahit terhadap tim kesayangan anda karena belum lama ini Roma dibantai tim favorit saya Intermilan dengan skor telak 4-0,,,
    masih teringat juga ketika diliga campion Roma dilibas MU 7-1,,hohohohoooo,,,
    piss,,lagi,,,,

  2. @ardiansyah
    apaan yang gak pernah??ni anak doyan banget ngomen setengah2,, jadi gak ngerti…(-.-)v
    @santo
    heheh,, gak masalah… kalo emang tulus menggemari,, mau menang, mau kalah, mau dibantai, mau membantai, tetep sukaaa…

  3. saya sangat suka degan permainan totti,dari totti masih main kelereng ampe sekarang.saya berharap totti di mainnin dalam pertandingan liga campione,semoga dalam lajutan liga campion as roma dapat menang telak dalam manghadapi real madri

  4. hehehe… emang agak jarang nih tau cewek yg “ngerti bola” beneran. lagi blogwalking ke tempat fitra, eh nyasar kesini, salam kenal.

    um, menurut saya, justru roma bukan kuda hitam, mereka persis kaya inter sekitar 3 – 4 musim lalu. always second best. yang kurang ya gimana nemuin satu momentum yang memantapkan bahwa, “kita tim juara, we deserve first place”. soale, kalo mentalitas kaya gini udah muncul, determinasi untuk menang di tiap partai pasti ada. itu yg kurang dari roma. kayanya seneng aja gitu kalo udah runner up.

    um, oiya, saya juventini. :p
    dan… ya, ya, juve masi belum ok koq di seri a, maklum baru promosi dan baru memiliki pelatih bodoh. hehehe.

  5. @zuljunot_holic
    sipp,, setuju… tapi ngefansnya jangan jadi taklid buta gitu dong mas… hehe

    @qbl
    eh, ada kahim…hehe
    i’ll take the ‘ngerti bola’ thing as a compliment ^^

    hemm,, soal mentalitas itu saya sepakat. mental pemenangnya blm ada, malah sering jadi nervous dan bikin kesalahan sendiri pas lagi momen-momen krusial.

    soal calciopoli emang bakal jadi sejarah Lega Calcio yang dikenang terus sampai entar-entar. ternyata bukan cuma hasil pilkada tapi hasil liga juga harus berakhir di pengadilan… haha

  6. pada saat Capello menangani Roma, lalu Roma menjadi juara pada tahun 2001. yang diterapkan Capello adalah 3-5-2. yang formasi intinya: Antonioli(kiper); Zago, Aldair, Samuel (Belakang); Tommasi, Nakata, Cafu, Candela, Totti (Tengah); Batistuta, Montela (depan). Itulah masukan dari saya yang saya ketahui…
    Saya juga penggemar AS Roma juga…
    Bravo Il Giallorossi…..Siap kudeta Inter di akhir pekan ini…

  7. wah, sama-sama gibol neh teh
    tapi saya pecinta AC MILAN

    saya ingat pas Roma jadi scudetto tahun 2000an, waktu lawan Parma di laga terakhirnya..keren banget lah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s