Belajar Menjadi Arif di Kutoarjo

Bukan, bukan menjadi arif tapi Arif. Mari berkenalan dengannya, sebut saja namanya Arif. Ceritanya, libur lebaran lalu saya harus melakukan survei ke LAPAS Anak Kutoarjo dalam rangka pengumpulan data untuk TA saya yang mengangkat kasus LAPAS anak. Saat survei ke LAPAS (penjara) anak inilah saya bertemu dengan Arif.

Dari stasiun Bandung, saya berangkat naik kereta Lodaya. Sejak berangkat, perasaan saya sudah tidak karuan. Excited, deg-degan, penasaran, takut, semua jadi satu. Apalagi saya merencanakan akan melakukan wawancara dengan anak didik (sebutan untuk narapidana anak) di LAPAS nanti. Ketika sampai di LAPAS, bulu kuduk saya sempat merinding. Tatapan-tatapan dari anak didik yang berada di balik terali sungguh menyeramkan bagi saya. Tajam, waspada, dan curiga. Barangkali kehadiran saya sudah mengusik personal bubble space mereka.

Untungnya, keinginan saya untuk melakukan wawancara dengan anak didik ternyata diijinkan oleh petugas LAPAS. Malah, petugas LAPAS menanyakan anak didik dengan pidana apa yang ingin saya wawancarai.

“Mau yang pembunuhan? Yang umurnya berapa?”

Huwaa. Saya langsung ngeper. “Yang kecil aja, pak. Yang paling kecil.”

Tak lama kemudian, petugas lapas mempertemukan saya dengan Arif yang sudah saya perkenalkan di atas. Asalnya dari Purworejo, kota yang sedikit lebih besar dari Kutoarjo yang terletak 20 km di timur. Wajahnya biasa saja, seperti anak kebanyakan. Tatapan matanya teduh, berbeda dari tatapan mata lain yang menyambut saya di awal. Tidak terbayang oleh saya anak semacam dia harus menjalani sebagian hidupnya dalam tahanan. Bicaranya lancar, suaranya tenang. Hanya saja, saat saya tanyakan kasus apa yang menyebabkan dia harus dipenjara, suaranya melirih.

“Di sini betah?” (dalam hati, saya memaki diri sendiri saat mengeluarkan pertanyaan macam itu pada Arif. mana ada orang yang betah di penjara???)

“Ya, sedikit-sedikit dibuat betah…” jawabnya.

“Pernah kepikiran untuk kabur?”

Kepalanya tergeleng.

“Kenapa?”

“Nanti gak bisa dapat remisi, ” jawabnya.

Ya, demikian simpelnya. Tak terpikir olehnya untuk kabur padahal kemungkinan untuk itu ada. LAPAS Anak Kutoarjo memang terbilang tidak ketat dalam hal pengamanan. Saat diwawancara lebih lanjut, Arif mengaku sudah menyadari kesalahannya dan hanya ingin menjalani sisa hukumannya dengan baik agar kemudian dapat kembali berbaur dengan masyarakat. Demikian sederhananya. Tidak ada usaha untuk mengelak, tanpa berkelit dari tuduhan.

Harusnya, orang-orang bersalah di negeri ini belajar pada Arif agar mampu legowo dan mengakui kesalahan. Tak usah memanipulasi data ataupun kata, segera mengakui kekhilafan dan memperbaiki kesalahan. Biar KPK gak repot, Kejagung gak susah, MA gak ribut. Tabik!

Kutoarjo, Lebaran hari keempat (walo baru sempet dipublish di akhir Syawal)

Iklan

3 pemikiran pada “Belajar Menjadi Arif di Kutoarjo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s