Warna Putih dan Bandung Deco (1)

 

Bagi saya, wisata paling menghibur di Kota Bandung adalah berpelesir di kawasan Bandung’s older downtown. Kawasan ini meliputi daerah stasiun kereta api dan sekitarnya, alun-alun, asia afrika, dan Braga. Sekedar jalan kaki pun cukup, malahan banyak hal yang bisa saya nikmati jika berjalan kaki dibanding saat menggunakan kendaraan. Sambil berjalan kaki, saya bisa sambil icip-icip beberapa hidangan kuliner unik yang hanya ada di Bandung Lama. Misalnya, roti kukus dengan selai srikaya homemade di Toko Purnama, roti dan kue kering di Toko Sumber Hidangan, atau kopi spesial di Toko Aroma.

Bandung Lama memang memikat. Didominasi oleh bangunan komersial dan jasa, kawasan Bandung Lama terserak di sekitar jalan raya pos (die Grote Postweg) yang terbentang dari barat ke timur. Bandung Lama memang belum berusia setua Kota Tua Jakarta, namun berkat pendekatan perancangan yang matang pada masanya telah menjadikan Bandung sebuah kota yang antik pula. Bandung dirancang sebagai ibukota baru bagi Hindia Belanda, menggantikan Batavia yang tak mampu lagi menanggung beban sebuah ibukota. Bandung pun berbenah menghadapi pemindahan ibukota yang sedianya akan dilakukan tahun 1930-an.

Masterplan Bandung dibuat oleh Thomas Karsten dengan mengadopsi konsep Garden City milik Ebenezer Howard sedangkan bangunan-bangunannya dirancang oleh arsitek-arsitek Belanda ternama macam Albers, Schoemaker, Pont dan Gerber. Sebelum dekade pembangunan besar-besaran ini (1910-1930), hanya ada sedikit bangunan permanen di Bandung. Dalam manuskrip peta Negorij Bandoeng yang memetakan Bandung abad ke-19, hanya ada tujuh bangunan yang terbuat dari batu (staanen bebouwing) termasuk diantaranya masjid agung, rumah patih, rumah bupati, gudang kopi dan rumah pengawas perkebunan kopi.

Saat pembangunan Bandung, langgam Art Deco sedang melanda dunia. Chrysler Building dan Empire State Building adalah dua bangunan monumental yang mewakili langgam ini. Dicirikan dengan dekorasi khusus pada sudut dan puncak bangunan, pasca Perang Dunia I adalah masa kejayaan langgam Art Deco. Bandung tentu tak ketinggalan. Berbagai bangunan yang sedang atau baru dibangun di Bandung ikut mengusung langgam ini.

Beberapa bangunan dibangun dengan ciri Art Deco yang kental. Sebut saja bangunan Bank Jabar (Eks Bank Denis) di Jalan Braga, Hotel Homann dan Preanger di Asia-Afrika, gedung Danareksa di Simpang Lima, dan berpuluh bangunan di sepanjang Braga dan Asia-Afrika. Tak heran kalau Bandung punya prestasi tingkat dunia soal Art Deco. Warga Bandung silahkan menepuk dada, kota kita tercinta ini masuk lima besar kota Art Deco terbaik di dunia yang memiliki keragaman varian bangunan Art Deco yang tinggi.

Apa bedanya arsitektur Art Deco di Bandung dibandingkan yang ada di tempat lain? Lanjutkan ke bagian dua dari tulisan ini!

gambar diambil dari visualtext.nl

 

Bandung, Lebaran hari kedua

18 derajat celcius, N/A, gerimis

Iklan

5 pemikiran pada “Warna Putih dan Bandung Deco (1)

  1. ak sangat bangga sebagai orang Bandung, banyak yang bisa ak pelajari di kota ini. apa lagi untuk anak2 desain Interior.

    ak juga setiap lewat jalan Braga,Asia Afrika dan daerah lainnya. yang penuh dengan bangunan2 lama baik itu gedung sampai desain rumah tinggal.slalu ak perhatikan dan kadang kala ak ambil foto.

    tapi sayang skali masih ad bangunan yang tidak terurus atau dibiarkan begitu saja.
    pada hal knapa ngg ditempati saja jadi kafe atau restoran atau bisa dijadikan tempat pariwisata.kita jangan kalah dengan negara lain.yang begitu menjaga tempat sejarahnya dan menjadi omset besar bagi negara tersebut.

    kota Bandung terkenal akan kota yang kreatif.knapa kita tidak dimulai dari sini..

  2. @Cat
    sip2..sepakat banget. bangunan bersejarah di Bandung (dan di tempat2 lainnya) berhak dihargai karena mereka bagian dari sejarah kota, bahkan dunia.
    masalah bangunan yang dibiarkan terlantar, menurut saya itu akan kembali ke warga kotanya sendiri. apakah mereka telah mampu menghargai kelaluan sebagaimana mereka menatap ke masa depan..
    makanya, di bagian kedua tulisan ini saya sampaikan bahwa pelestarian bangunan bersejarah adalah triangulasi antara pihak pemerintah, pemilik, dan warga kota itu sendiri.
    makasi kunjungannya,, rajin2 mampir ya!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s