Bandung Indah Plaza: Ikon Bandung yang Terjebak Perubahan Jaman

Pohon-pohon palem, teras kaskade, serta pagar dengan railing horizontal adalah pemandangan baru yang Anda jumpai di Bandung Indah Plaza (BIP) dalam setahun terakhir ini. Bagian entrance-nya juga ikut direnovasi dengan menambahkan pintu kaca otomatis. Perubahan lainnya yang dapat dijumpai adalah dihilangkannya lift kapsul yang dahulu terletak di tengah bangunan. Sebagai gantinya eskalator diperbanyak walau harus mengurangi kualitas ruang atrium karena ada eskalator yang malang melintang di atasnya.

Sederet perubahan di atas –seperti dihidupkannya segmen muka sepanjang Jalan Merdeka dan atrium yang berubah suasana ruangnya– bukan tanpa perhitungan pihak pengelola dan pengembang. BIP memang tengah mempercantik diri. Dengan mengusung jargon baru “The Revolution of Shop, Dine, and Play” pihak pengelola memang melakukan revolusi pada berbagai elemen BIP. BIP nampaknya berusaha meninggalkan citra pusat perbelanjaan konvensional dan ingin menunjukkan citranya yang baru sebagai lifestyle center.

Pusat Perbelanjaan Konvensional vs Lifestyle Center

Sebelum tahun 2000, masyarakat Bandung hanya mengenal dua pusat perbelanjaan di kota ini yaitu Kings Shopping Center dan BIP. Tidak ada literatur resmi yang merujuk waktu tahun pendirian kedua pusat perbelanjaan tersebut.  Barulah di awal abad ke-21 muncul beberapa pusat perbelanjaan seperti Bandung Supermal, Mollis, dan Istana Plaza. Kesemua pusat perbelanjaan tersebut memiliki kesamaan ciri fisik yaitu memiliki massa bangunan yang besar alias raksasa (bulky mass).

Selain bangunan raksasa, beberapa pusat perbelanjaan di atas juga memiliki kesamaan berupa adanya atrium atau serambi besar di tengah bangunan. Keberadaan atrium ini memungkinkan pengunjung di lantai-lantai atas melihat kegiatan yang sedang berlangsung di lantai terbawah. Desain pusat-pusat perbelanjaan tadi juga dibuat sangat efisien dengan mengoptimalkan sebanyak mungkin ruang untuk disewakan. Untuk menarik pengunjung, masing-masing pusat perbelanjaan tadi melengkapi gerainya dengan kehadiran department store sebagai mega anchor tenant.

Pada tahun 2003, masyarakat Bandung dikejutkan dengan kemunculan pusat perbelanjaan baru yaitu Cihampelas Walk (Ciwalk). Dengan mengusung konsep open-air mall, Ciwalk hadir dalam tampilan serba berbeda dari mereka yang sudah terlebih dahulu ada. Pengunjung Ciwalk tidak selalu terkurung dalam bangunan raksasa namun diajak berjalan di udara terbuka dari satu gerai ke gerai yang lain. Aktivitas makan-minum pun tidak sekedar pesan, makan, lalu pulang. Fauzan Noe’man, arsitek Ciwalk, berusaha mengoptimalkan udara Bandung yang nyaman dengan menempatkan gerai makanan-minuman di teras bangunan. Alhasil para pengunjung Ciwalk betah untuk duduk berlama-lama sekadar menyeruput secangkir kopi sambil cuci mata.

Tahun 2006 Paris Van Java (PVJ) hadir dengan konsep setali tiga uang. Bagi Wawa Sulaeman, arsitek PVJ, pusat perbelanjaan yang tertutup cukup berada di lantai-lantai bawah. Andalan dari pusat perbelanjaan ini adalah jajaran kafe semi terbuka dan deretan toko pakaian di sepanjang pedestrian. Di tempat ini -dan di Ciwalk-tidak ada mega anchor tenant yang mendominasi bangunan. PVJ memikat pengunjung lewat mini anchor tenant semacam Blitz atau JCo.

Malachy Kavanagh, juru bicara International Council of Shopping Center (ICSC) menamai pusat perbelanjaan butik semacam Ciwalk dan PVJ sebagai lifestyle center[1]. Lifestyle center berdesain terbuka atau semi terbuka (open-air mall). Segi arsitekturalnya pun diperhatikan dengan memperbanyak ruang-ruang bersama yang dapat digunakan untuk aktivitas sosial pengunjungnya. Konsep pusat perbelanjaan terdahulu dimana bangunannya berukuran raksasa, memiliki atrium, dan tertutup menjadi demikian konvensional di hadapan konsep pusat perbelanjaan butik alias lifestyle center.

Dari sisi ekonomi, lifestyle center memang lebih menguntungkan karena membidik segmen pasar menengah ke atas dan memiliki target yang spesifik yakni kelompok masyarakat berpendapatan tinggi (high disposable income groups), keluarga muda, dan kaum eksekutif.

Konsep lifestyle center terbukti sukses menggaet pengunjung. Victor Gruen di tahun 1960 memprediksikan pusat perbelanjaan yang akan merebut pasar di masa depan adalah yang mampu menyediakan lebih dari sekedar pemenuhan kebutuhan berbelanja dan menawarkan kelebihan pada sisi sosial, rekreasional, dan hiburan[2].

BIP Gaya Baru dan Setumpuk Konsekuensinya

BIP pun segera berbenah dengan melakukan setumpuk renovasi. Secara keseluruhan, proses renovasi berlangsung sejak tahun 2005 dan berakhir tahun 2006. Sayangnya, sulit didapatkan informasi nama arsitek BIP semasa awal pembangunan maupun saat renovasi. Selain merenovasi atrium, renovasi yang mendasar terjadi di entrance Jalan Merdeka dengan membuat kavling-kavling yang berorientasi ke jalan dan menata perkerasan.

Ini BIP gaya baru. BIP gaya baru bukannya tidak menuai pengorbanan yang mahal. Pertunjukan busana di atrium BIP tak seramai dulu lagi karena pengunjung di lantai-lantai atas tidak bisa ikut menikmati acara. Pandangan mereka dari atas kini terhalang eskalator yang malang melintang.

Sudah tidak ada lagi kios-kios bazaar yang menjual kaus kaki dan asesoris murah. Para penjual binatang hias harus tergusur ke seberang jalan. Kesan gentrifikasi semakin terlihat ketika mini anchor tenants pengisi kavling-kavling kafe adalah merk-merk yang menjadi simbol gaya hidup kosmopolitan.

Bagi sebagian besar masyarakat Kota Bandung yang berpenghasilan rata-rata tentu akan merasa asing dengan teras BIP yang sekarang. Terlalu mahal bila harus menjamu tamu dari jauh untuk minum kopi di Starbucks. Akhirnya, sebagian besar pengunjung BIP -yang notabene masyarakat Bandung-hanya akan berjalan sambil lalu tanpa menoleh ke kafe-kafe tadi.

Sebuah kondisi yang ironis. Demi menggaet pasar kelas atas, pihak pengembang dan pengelola menggusur kios-kios bazaar dan penjual binatang hias. Padahal mereka adalah faktor yang mengundang pengunjung untuk mampir dan membentuk suasana ruang publik di sepanjang entrance Jalan Merdeka. Suasana ruang publik yang sebelum renovasi terasa sangat kental kini makin tidak kentara.

Bandung, Mei 2007


[1] Bhatnagar, Parija. 2005. Call it a Lifestyle Center. www.cnnmoney.com. Diakses pada tanggal 19 April 2007

[2] Gruen, Victor. 1960. Shopping Towns USA: The Planning of Shopping Center. New York: Reinhold Publishing Company

Iklan

Satu pemikiran pada “Bandung Indah Plaza: Ikon Bandung yang Terjebak Perubahan Jaman

  1. Bandung Indah plaza yang genap pada tahun 2010, berumur 20 tahun telah melewati masa-masa indah.

    Bandung Indah plaza di bawah management baru Village Mall bersama Istana Plaza, masih tetap mengaet pasar anak muda Bandung.

    Sungguh sulit menjaga agar bisa tetap diterima oleh semua pasar yang makin beragam. Masalah klasik pedagang kali lima yang tidak pernah selesai. mereka juga kini mulai bergeser. Dari penjual yang kreatif, menjadi penjual barang-barang konsumtif yang tidak mendidik.

    Rindu dengan para pedagang dulu semasa saya masih kuliah.

    Apakah yang dijual di BIP mahal? Berarti Anda belum pernah membeli apapun di BIP.

    Semua masih sama. Kami hanya mencoba meramu kemasannya agar lebih baik.

    Masih ingat outlet-outlet yang ada ketika BIP hadir pertama kali? semua kini telah melakukan renovasi outletnya menjadi lebih besar dan baik lagi.

    Kembali ke konsep penyajian, lihat semua mulai berbenah diri. Bukan apa yang kita jual tapi jasa apa yang kita bisa berikan kepada pelanggan.

    Banyak faktor yang menuntut kami berubah. Mulai dari pelanggan, peraturan daerah, kompetitor, management dan trend mall.

    Semua perubahan kami lakukan agar BIP menjadi lebih baik dan lebih baik.

    Thanks for visited our mall. Village Mall
    Bandung Indah Village Mall

    Ewin Permana
    Visual Art – Architect
    Bandung indah Plaza

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s