Ode untuk Bapak

Setiap saya membuka payung sampai mengembang, tanpa sadar akan ada seulas senyum yang terbit di wajah saya. Semua karena Bapak.

Bukan, ini bukan cerita tentang ayah kandung saya. Bapak adalah suami Ibu; kedua orang tua paruh baya ini adalah pasangan yang mengambil tanggung jawab jadi pelindung saya, ketika selama setahun saya tinggal di Dusun Oi Marai, Tambora, Kabupaten Bima NTB sebagai Pengajar Muda Indonesia Mengajar.

Walau saya sudah mendapuknya sebagai ayah angkat, Bapak—yang juga guru agama Islam di sekolah tempat saya pernah mengajar—selalu memanggil saya “Ibu Shally”.

Selama setahun tinggal seatap, hubungan kami dipenuhi rasa canggung dan sungkan. Bapak lebih sering menghabiskan waktunya di masjid dan kebun, sedangkan saya bersama murid-murid di rumah atau pantai. Kami baru punya momen berbincang saat Bapak menyetel siaran RRI Pro 3 Makassar dari radio Tens Dual Band kesayangannya. Biasanya Bapak tanya pendapat saya tentang perkembangan politik terkini di ibukota.

Sebenarnya ada banyak cara Bapak menunjukkan rasa sayangnya kepada saya, as the closest person to a child that he ever had.

Setiap Subuh saya terbangun karena hidung ini tergelitik wangi kayu jambu yang terbakar di tungku. Hal wajib yang dilakukan Bapak sebelum berangkat ke masjid untuk mengumandangkan adzan adalah merebus air di teko. Kebiasaan Bapak yang satu ini istimewa, karena baru terjadi setelah saya tinggal bersama mereka. Pasalnya, pada hari pertama kami tinggal bersama, saya gagal menyembunyikan raut muka enggan meminum air mentah dari mata air dan meminta izin menjerang air minum. Di hari kedua, Bapak mengambil alih peran itu tanpa pernah diminta.

Saya juga sering kehabisan kata-kata setiap pulang mengajar atau memberi les tambahan lalu mendapati periuk sudah berisi masakan Bapak, entah sayur bening daun kelor atau tumis bunga pepaya. Beristrikan kepala sekolah yang sering bolak-balik ke ibukota kabupaten membuat Bapak terbiasa hidup mandiri soal pekerjaan domestik, termasuk memasak. Posisi sebagai bapak rumah tangga ini tidak berubah setelah saya masuk dan menjadi satu-satunya ‘anak’ di rumah, padahal saya perempuan. Selama setahun di Oi Marai inilah masa saya paling sering dimasakin oleh laki-laki. Sebuah situasi yang langka sekali di masyarakat Indonesia yang patriarki.

Namun yang membuat saya paling terharu adalah soal payung. Di Oi Marai yang mataharinya ada sepuluh*, berjalan di siang hari tanpa peneduh adalah tindakan dungu. Risikonya bukan hanya kulit jadi gosong—saya tetap dekil walau selalu baluran dengan tabir surya SPF 70—tetapi bisa semaput sebab dehidrasi. Suatu hari, saya pulang sekolah tanpa berpayung karena rusak. Sepertinya engsel jari-jarinya jebol sehingga payung merah kesayangan saya itu tak lagi bisa dikembangkan. Melihat muka saya yang seperti kepiting rebus, Bapak bertanya mengapa payung saya hanya digenggam saja. Sambil menyenderkan payung ke belakang pintu ruang tamu, saya bilang kalau payungnya sudah rusak dan saya akan beli baru saja kalau pergi ke kota.

Besok paginya saya berangkat sekolah tanpa menenteng payung. Saya berpamitan kepada Bapak setengah berteriak dari kejauhan karena Bapak kelihatan masih sibuk di dekat kandang kambing. Baru beberapa langkah lepas ke luar pintu pagar, terdengar suara Bapak memanggil sambil menyongsong.

“Ibu Shally! Kenapa tidak pakai payung?” tanya Bapak sambil mengacungkan payung merah yang biasa saya pakai.
“Itu payung saya? Kan rusak, Pak?” saya menjawab sambil berjalan balik mendekati.
“Sudah ada saya perbaiki malam lepas. Ini sudah bisa lagi,” katanya sambil mengembang-kuncupkan payung dengan menggeser cincin jari-jari yang berada di batang porosnya.

Sungguh, jika Bapak adalah orang tua kandung yang mahram dengan saya, pastilah saat itu saya sudah cium kakinya sebagai tanda bakti. Sebagai informasi, tidak ada listrik di dusun kami. Ikhtiar memperbaiki engsel jari-jari payung di bawah pendaran lampu pelita pastilah sulit sekali bagi Bapak, terutama bagi sepasang mata sepuhnya. Sejak itu, setiap gerakan membuka payung selalu memicu senyum haru yang sulit terbendung.

Payung, periuk sayur, dan wangi kayu jambu adalah secuplik bukti dari Bapak bahwa dalam hidup paling getir pun selalu masih ada ketulusan untuk dibagi. Tanpa perlu diminta, tanpa perlu berharap balas.

Semoga Bapak selalu dilindungi Allah.

bapak2

Bapak mengajari saya menyuapi anak kambing yang piatu

+++

Ditulis untuk kampanye ‘Mencari #Amang’ oleh Sarah Siregar.

Catatan: * angka ini (lagi-lagi) adalah eksagerasi. Hihi